WTI Tertekan Sikap Trump, Pasokan Minyak Jadi Penentu Arah Harga
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), patokan minyak mentah Amerika Serikat, melemah ke sekitar US$90,69 per barel pada awal perdagangan sesi Eropa hari Jumat. Tekanan muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Washington tidak akan menyerang Iran sebelum pemilu paruh waktu pada November 2026. Pernyataan tersebut meredakan sebagian kekhawatiran pasar terhadap potensi eskalasi konflik di Timur Tengah yang dapat mengganggu pasokan energi global. Meski demikian, arah harga minyak masih dibayangi ketidakpastian geopolitik dan risiko distribusi energi, sehingga ruang penurunan WTI berpotensi tetap terbatas.
Sentimen pasar semakin tertekan setelah Trump menyebut bahwa pembicaraan dengan Teheran berlangsung produktif serta mengklaim aliran minyak mentah melalui Selat Hormuz telah mencapai jumlah rekor. Jika jalur distribusi energi strategis tersebut terus beroperasi dengan lancar dan ketegangan mereda, premi risiko geopolitik yang sebelumnya menopang harga minyak berpotensi menyusut. Kondisi ini dapat membuka ruang bagi koreksi WTI dalam jangka pendek. Namun, pasar tetap perlu mewaspadai kemungkinan perubahan situasi yang mendadak, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan minyak dunia.
Dari sisi pasokan, Badan Energi Internasional (IEA) menyepakati percepatan pelepasan stok minyak dengan prioritas pada pasokan diesel untuk meredakan tekanan harga bahan bakar dan mengatasi gangguan distribusi terkait konflik. Langkah tersebut menyusul kesepakatan negara-negara G7 pada pekan sebelumnya untuk melepas 100 juta barel minyak mentah dan diesel. Potensi tambahan pasokan dari cadangan strategis meningkatkan ekspektasi bahwa tekanan terhadap ketersediaan minyak dapat berkurang. Meski demikian, dampak kebijakan ini terhadap harga WTI akan bergantung pada volume realisasi pelepasan stok, kecepatan distribusi, serta kondisi permintaan dan pasokan global.
Di sisi lain, data persediaan minyak mentah Amerika Serikat memberikan dukungan fundamental bagi harga. Administrasi Informasi Energi AS (EIA) melaporkan bahwa stok minyak mentah turun 3,186 juta barel pada pekan yang berakhir 2 Oktober, berbalik dari kenaikan 922 ribu barel pada pekan sebelumnya. Hasil tersebut juga bertentangan dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan penambahan persediaan sebesar 1,9 juta barel. Penurunan stok yang lebih besar dari perkiraan mengindikasikan bahwa keseimbangan pasokan dan permintaan domestik masih berpotensi menopang harga. Analis ABN Amro juga menyoroti bahwa risiko eskalasi menjelang pemilu AS, meningkatnya serangan terhadap kapal tanker, serta biaya logistik dan kebutuhan pengawalan angkatan laut dapat mempertahankan premi risiko pada harga minyak, meskipun arus distribusi di kawasan tersebut sebagian besar telah kembali normal.
Dengan demikian, WTI menghadapi tarik-menarik antara meredanya risiko serangan AS terhadap Iran sebelum pemilu, potensi tambahan pasokan dari cadangan strategis, dan penurunan persediaan minyak mentah AS yang lebih besar dari perkiraan. Dalam jangka pendek, pernyataan Trump dan perkembangan diplomatik berpotensi membatasi kenaikan harga, sementara risiko gangguan distribusi serta ketatnya persediaan dapat menjadi penopang. Pelaku pasar juga perlu mencermati aktivitas perdagangan berbasis momentum, karena analis ABN Amro mencatat bahwa Commodity Trading Advisors (CTA) menjadi pembeli WTI pada hari tersebut dan sinyal momentum WTI maupun Brent kembali menunjukkan posisi beli. Oleh karena itu, arah berikutnya akan sangat bergantung pada apakah meredanya ketegangan geopolitik mampu mengimbangi risiko pasokan yang masih membayangi pasar minyak global.
sumber : fxstreet
