WTI Menguat, Risiko Hormuz Kembali Memanas

Harga minyak mentah kembali menguat pada hari Rabu setelah sempat mengalami tekanan pada hari sebelumnya. Penguatan tersebut dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi akibat eskalasi serangan di Selat Hormuz serta ancaman yang masih membayangi ladang minyak Arab Saudi. Harga West Texas Intermediate (WTI), patokan minyak mentah Amerika Serikat, naik 0,17% dan ke level US$98,29 per barel saat berita ini ditulis Pukul 14.30 WIB. Perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali menjadi faktor utama yang mendorong kenaikan harga minyak.

Risiko terhadap pasokan semakin meningkat setelah Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan pada hari Selasa (20/10) bahwa dua kapal tanker terbakar setelah menabrak ranjau laut di bagian selatan Selat Hormuz. Kapal-kapal tersebut dilaporkan berupaya melintasi jalur strategis tersebut melalui rute yang tidak mendapatkan izin dari Teheran. Insiden ini meningkatkan kekhawatiran pasar mengenai keselamatan kapal tanker dan kelancaran distribusi minyak melalui salah satu jalur perdagangan energi paling penting di dunia.

Tekanan terhadap pasokan juga datang dari kawasan Laut Merah. Kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman mengklaim telah menyerang fasilitas minyak Aramco di Yanbu, salah satu pelabuhan penting Arab Saudi yang digunakan sebagai jalur alternatif untuk menghindari Selat Hormuz. Di sisi lain, upaya mencapai kesepakatan damai antara Washington dan Teheran masih menghadapi berbagai hambatan. Seorang pejabat tinggi militer Pakistan bahkan tiba di Teheran pada Selasa dalam upaya terbaru untuk menjadi mediator dan mencegah pecahnya kembali konflik. Kabar tersebut sempat disambut positif oleh pasar dan memicu aksi jual signifikan pada minyak mentah selama sesi perdagangan AS.

Namun, optimisme terhadap tercapainya kesepakatan dalam waktu dekat kembali meredup setelah pejabat Amerika Serikat memberikan pernyataan yang lebih hati-hati. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa mencapai kesepakatan damai dengan Iran merupakan proses yang sangat sulit. Ia juga menyatakan bahwa tekanan ekonomi terhadap Teheran akan terus dipertahankan hingga Iran menghentikan serangan terhadap kapal-kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz. Pernyataan tersebut kembali meningkatkan ketidakpastian mengenai prospek penyelesaian konflik dan memberikan dukungan terhadap harga minyak.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan melalui media Iran bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga Washington menerima persyaratan yang diajukan Teheran. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa konflik telah memasuki bulan kedelapan tanpa indikasi penyelesaian yang jelas. Selama ketegangan masih berlangsung dan risiko terhadap jalur pelayaran serta fasilitas energi tetap tinggi, harga minyak berpotensi mempertahankan premi risiko geopolitik. Investor selanjutnya akan mencermati setiap perkembangan diplomatik maupun militer yang dapat menentukan arah pasokan minyak global dan pergerakan WTI dalam jangka pendek.


sumber : fxstreet