WTI Anjlok, Pasokan Rusia Tekan Harga Minyak

Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah tajam pada awal perdagangan Eropa, hari Senin, dan bergerak di sekitar US$91,12 per barel, turun 0,31%. Tekanan utama datang dari meningkatnya ekspektasi pasokan minyak Rusia setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Rusia dan Ukraina telah sepakat menghentikan serangan terhadap fasilitas energi masing-masing. Prospek tambahan pasokan tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap keseimbangan permintaan dan penawaran minyak, sehingga membatasi penguatan harga di tengah masih tingginya risiko geopolitik.

Tekanan terhadap WTI semakin besar setelah Trump mengungkapkan kesepakatan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin terkait pasokan solar secara bertahap. Berdasarkan informasi yang disampaikan, Rusia akan segera memasok lebih dari 300.000 ton solar, dilanjutkan 500.000 ton pada November 2026, 1 juta ton setelahnya, serta tambahan 3 juta ton pada tahap berikutnya. Jika realisasi pasokan tersebut berjalan sesuai rencana, ketersediaan produk energi di pasar dapat meningkat dan menekan harga. Meski demikian, perkembangan ini perlu dicermati bersama kondisi permintaan global serta kemungkinan perubahan kebijakan dan hubungan geopolitik antara negara-negara terkait.

Di sisi lain, risiko geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor yang berpotensi menahan penurunan harga minyak lebih dalam. Kelompok Houthi yang didukung Iran meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi, sementara dua kapal tanker dilaporkan menjadi sasaran selama akhir pekan. Otoritas United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) juga mengklasifikasikan insiden di sekitar area labuh Sohar, Oman, sebagai serangan setelah memastikan sebuah kapal tanker terkena drone. Trump turut memperingatkan Iran terkait negosiasi dengan AS dan mempertimbangkan kemungkinan bergabung dengan Arab Saudi dalam aksi balasan terhadap Houthi. Analis Commonwealth Bank of Australia menilai berlanjutnya serangan terhadap aset energi Saudi berpotensi mendukung kenaikan harga minyak sekaligus memperkuat dolar AS.

Dalam jangka pendek, perhatian pelaku pasar beralih pada laporan persediaan minyak mentah dari American Petroleum Institute (API) yang dijadwalkan dirilis pada hari Selasa (13/10). Penurunan stok yang lebih besar dari perkiraan dapat mengindikasikan permintaan yang lebih kuat atau pasokan yang lebih ketat, sehingga berpotensi mendorong rebound WTI. Sebaliknya, kenaikan persediaan di atas ekspektasi dapat memperkuat kekhawatiran terhadap kelebihan pasokan dan menambah tekanan jual. Dengan demikian, arah harga minyak akan ditentukan oleh keseimbangan antara prospek bertambahnya pasokan Rusia, perkembangan konflik di Timur Tengah, dan perubahan persediaan minyak AS.

Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah potensi kembali menguatnya inflasi AS pada September 2026. TD Securities memperkirakan CPI utama naik sekitar 0,57% secara bulanan, didorong oleh lonjakan harga bensin sebesar 9%. Bank tersebut juga memperkirakan indeks harga energi meningkat rata-rata 5,3% secara bulanan, sementara inflasi pangan berpotensi naik tipis. Kenaikan harga energi dapat menjaga inflasi tahunan tetap tinggi hingga awal 2027 dan memengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve. Bagi WTI, situasi ini menghadirkan dua sisi: harga energi yang tinggi dapat mencerminkan tekanan permintaan atau gangguan pasokan, tetapi inflasi yang persisten juga berpotensi memperketat kondisi keuangan dan membebani prospek konsumsi. Untuk saat ini, WTI menghadapi tekanan bearish dari prospek pasokan Rusia, dengan risiko geopolitik dan data stok API menjadi katalis utama yang dapat memicu volatilitas berikutnya.


sumber : fxstreet