USD Tertekan Komentar Trump, Pasar Forex Berbalik Arah!
Dolar AS (USD) mengalami tekanan jual tajam pada perdagangan hari Kamis setelah komentar Presiden Donald Trump memicu perubahan sentimen pasar, diikuti oleh koreksi harga minyak mentah. Indeks Dolar AS (DXY) memangkas sebagian besar kenaikan pada hari sebelumnya dan kembali menguji area 102. Selanjutnya, perhatian investor tertuju pada data awal Sentimen Konsumen Universitas Michigan (U-Mich Consumer Sentiment) serta pidato Presiden Federal Reserve Bank of Boston, Susan Collins, yang berpotensi memengaruhi arah pergerakan Greenback.
Di pasar mata uang utama, EURUSD dan GBPUSD berhasil memanfaatkan pelemahan USD untuk bergerak menguat. EURUSD kembali menembus level 1,1200 dengan kenaikan moderat, sementara GBPUSD bergerak di atas 1,3200 setelah merespons pelemahan Greenback. Tanpa rilis data ekonomi domestik utama dari kawasan Euro, pelaku pasar akan mencermati pernyataan pejabat Bank Sentral Eropa (ECB), termasuk Piero Cipollone dan Isabel Schnabel. Sementara itu, agenda ekonomi Inggris berikutnya mencakup publikasi BRC Retail Sales Monitor pada 13 Oktober 2026, yang dapat memberikan gambaran mengenai kondisi konsumsi masyarakat Inggris.
Pelemahan USD juga mendorong penguatan sejumlah mata uang lainnya. USDJPY berbalik turun ke sekitar 157,70, menyentuh level terendah dalam tiga hari setelah tekanan terhadap Greenback meningkat menjelang akhir sesi. Pasar Jepang selanjutnya akan mencermati data belanja rumah tangga (Household Spending) dan pesanan mesin perkakas (Machine Tool Orders). Di sisi lain, AUDUSD memangkas sebagian penurunan sebelumnya setelah memantul dari area 0,6930, dengan risalah rapat Reserve Bank of Australia (RBA) yang dijadwalkan pada 13 Oktober 2026 menjadi salah satu katalis berikutnya. Sementara itu, USDCAD turun dari area 1,4300 dan bergerak di kisaran bawah 1,4200 seiring penguatan Dolar Kanada, dengan laporan ketenagakerjaan Kanada menjadi perhatian utama pasar.
Berbeda dengan pelemahan USD, harga minyak mentah justru kembali menguat di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap pasokan energi dari Timur Tengah. Kontrak berjangka WTI bulan depan sempat menembus US$93 per barel dan mencapai level tertinggi mingguan setelah berbalik dari koreksi pada hari sebelumnya. Risiko geopolitik yang kembali meningkat menjadi faktor utama yang menopang harga minyak, terutama karena potensi gangguan pasokan dapat memengaruhi keseimbangan pasar energi global. Pergerakan ini juga menjadi perhatian investor karena kenaikan harga energi berpotensi memperbesar tekanan inflasi dan memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter bank sentral.
Sementara itu, harga Emas (XAUUSD) berupaya pulih secara terbatas menuju US$4.150 per troy ons setelah mengalami koreksi pada sesi sebelumnya. Namun, pemulihan tersebut belum cukup kuat untuk menghapus tren negatif mingguan yang masih berlangsung. Perbedaan arah antara USD, minyak mentah, dan Emas menunjukkan bahwa pasar masih sangat sensitif terhadap perubahan sentimen geopolitik dan ekspektasi ekonomi. Dalam jangka pendek, data ekonomi AS, pernyataan pejabat bank sentral, serta perkembangan situasi di Timur Tengah akan menjadi katalis utama yang menentukan arah pergerakan berbagai instrumen. Volatilitas diperkirakan tetap tinggi, sehingga pelaku pasar perlu mencermati konfirmasi pergerakan harga sebelum mengambil posisi perdagangan.
sumber : fxstreet
