USD Tertekan di Bawah 102, WTI Tembus US$97 dan Emas Kembali Menguat
Dolar AS (USD) kembali menghadapi tekanan jual pada perdagangan hari Kamis (15/10), dengan Indeks Dolar AS (DXY) menembus ke bawah level support 102 dan sempat menyentuh posisi terendah multi-hari. Pelemahan Greenback terjadi bersamaan dengan penurunan imbal hasil Treasury AS di sepanjang kurva serta meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar. Fokus selanjutnya tertuju pada sejumlah data ekonomi AS, termasuk Harga Ekspor dan Impor, Produksi Industri dan Manufaktur, Utilisasi Kapasitas, serta Arus Bersih TIC Jangka Panjang. Selain itu, pidato Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh pada pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Singapura akan menjadi perhatian untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan moneter.
Pelemahan USD memberikan dorongan luas bagi mata uang utama. EURUSD berhasil menembus 1,1200 dan mencapai level tertinggi mingguan setelah sebelumnya merosot ke level terendah 17 bulan di sekitar 1,1100. Di Inggris, GBPUSD memulihkan seluruh penurunan pada hari Rabu (14/10) dan kembali menguji area tertinggi multi-hari di atas 1,3270, dengan perhatian investor beralih pada pernyataan Gubernur Bank of England (BoE) Andrew Bailey. Sementara itu, USDJPY melanjutkan koreksi ke sekitar 157,50 di tengah aksi jual Greenback. Dari Australia, AUDUSD justru merosot ke level terendah tiga bulan dan menembus 0,6900 setelah data pasar tenaga kerja mengecewakan. Perhatian berikutnya pada Aussie akan tertuju pada serangkaian data ekonomi Tiongkok, termasuk PDB, Produksi Industri, Penjualan Ritel, dan Tingkat Pengangguran.
Pergerakan USD juga dipengaruhi oleh perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed. Penurunan imbal hasil Treasury menunjukkan bahwa pasar mulai mengurangi sebagian tekanan terhadap aset berdenominasi Dolar, sementara investor menunggu sinyal lebih jelas dari pejabat bank sentral. Pidato Warsh menjadi penting karena dapat memberikan gambaran mengenai bagaimana The Fed menilai perkembangan inflasi, pasar tenaga kerja, dan prospek suku bunga. Jika nada kebijakan lebih dovish dari perkiraan, USD berpotensi menghadapi tekanan tambahan. Sebaliknya, sinyal hawkish dapat memberikan dukungan bagi Greenback dan membatasi pelemahan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.
Di pasar komoditas, minyak mentah WTI melanjutkan kenaikan dan bergerak menembus level US$97 per barel, atau area tertinggi dalam empat pekan. Penguatan harga minyak didukung oleh ketidakpastian yang masih berlangsung di Timur Tengah serta kekhawatiran mengenai pasokan global. Risiko geopolitik tetap menjadi faktor penting karena potensi gangguan terhadap produksi maupun jalur distribusi energi dapat meningkatkan premi risiko pada minyak mentah. Kenaikan WTI juga perlu diperhatikan karena harga energi yang lebih tinggi berpotensi memengaruhi kembali ekspektasi inflasi dan pada akhirnya turut membentuk prospek kebijakan moneter bank sentral utama.
Sementara itu, harga Emas (XAUUSD) bergerak naik tipis tetapi masih bertahan di bawah US$4.200 per troy ounce. Pelemahan USD dan penurunan imbal hasil Treasury memberikan dukungan bagi logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil, meskipun kenaikannya masih terbatas. Dalam jangka pendek, arah XAUUSD akan sangat bergantung pada kemampuan DXY mempertahankan pelemahan serta respons pasar terhadap data ekonomi AS dan komentar pejabat The Fed. Jika USD dan imbal hasil obligasi terus menurun, Emas berpeluang memperpanjang pemulihan. Namun, penguatan kembali Greenback atau munculnya sinyal hawkish dari The Fed dapat menghidupkan kembali tekanan jual terhadap logam kuning.
sumber : fxstreet
