USD Menguat Usai Rilis CPI AS, Emas Anjlok ke Terendah Dua Bulan

Dolar AS (USD) kembali menguat tajam pada perdagangan hari Rabu (14/10) setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) bulan September 2026 tercatat lebih tinggi dari perkiraan pasar. Kondisi ini memicu spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) berpotensi mempertahankan kebijakan moneter ketat atau kembali menaikkan suku bunga pada kuartal IV. Indeks Dolar AS (DXY) melonjak ke level tertinggi sejak April 2025, mendekati ambang psikologis 103. Penguatan Greenback turut didukung oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, yang meningkatkan daya tarik aset berbasis Dolar di tengah perubahan ekspektasi kebijakan moneter.

Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada serangkaian data ekonomi AS, termasuk klaim pengangguran mingguan, Indeks Harga Produsen (PPI), Penjualan Ritel, persediaan bisnis, serta indeks manufaktur Federal Reserve Philadelphia. Laporan mingguan persediaan minyak mentah dari Energy Information Administration (EIA) dan pernyataan pejabat The Fed, termasuk Bowman dan Hammack, juga akan menjadi perhatian investor. Data-data tersebut dapat memberikan gambaran lebih lanjut mengenai ketahanan ekonomi AS, tekanan harga, dan kondisi pasar tenaga kerja. Jika aktivitas ekonomi tetap kuat sementara inflasi sulit mereda, ekspektasi suku bunga tinggi berpotensi semakin menopang USD.

Penguatan Dolar AS memberikan tekanan luas terhadap mata uang utama lainnya. EURUSD merosot ke level terendah dalam 17 bulan di sekitar 1,1100, sementara GBPUSD turun di bawah 1,3240 menuju level yang terakhir terlihat pada November 2025. Poundsterling juga menghadapi risiko volatilitas menjelang rilis data PDB Inggris, neraca perdagangan, produksi industri dan manufaktur, serta output konstruksi. Sementara itu, USDJPY naik mendekati 159 dan menyentuh level tertinggi bulanan baru. AUDUSD gagal mempertahankan penguatan di atas 0,7000 dan kembali melemah ke kisaran pertengahan 0,6900 setelah Greenback bangkit tajam. Data tenaga kerja Australia dan sejumlah indikator ekonomi Jepang akan menjadi katalis berikutnya bagi pergerakan kedua mata uang tersebut.

Di pasar energi, kontrak berjangka minyak mentah WTI melanjutkan tren kenaikan dan menguji level US$96 per barel. Pergerakan ini didorong oleh kekhawatiran pasar terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah, khususnya taktik Iran yang dilaporkan menyasar kapal-kapal di Selat Hormuz. Risiko gangguan jalur pelayaran strategis tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak global dan mempertahankan premi risiko geopolitik. Kenaikan harga energi juga berpotensi memperumit upaya pengendalian inflasi apabila berlanjut dalam jangka panjang, sehingga dapat memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter The Fed dan arah pergerakan Dolar AS.

Sementara itu, harga Emas (XAUUSD) menembus ke bawah US$4.100 per troy ounce dan menyentuh level terendah dalam dua bulan. Penurunan ini dipicu oleh kombinasi penguatan USD, kenaikan imbal hasil Treasury AS, serta meningkatnya spekulasi mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil, Emas cenderung kehilangan daya tarik ketika imbal hasil obligasi meningkat dan ekspektasi suku bunga semakin hawkish. Dalam jangka pendek, arah pasar akan sangat bergantung pada data ekonomi AS berikutnya dan pernyataan pejabat The Fed. Apabila data tetap kuat dan tekanan inflasi bertahan, USD berpotensi melanjutkan penguatan, sedangkan Emas dapat menghadapi tekanan jual lanjutan. Sebaliknya, pelemahan data ekonomi atau perubahan ekspektasi suku bunga dapat membuka peluang koreksi pada Greenback dan pemulihan harga Emas.


sumber : fxstreet