USD Melemah Jelang Data Inflasi AS, Emas Tertekan dan WTI Menguat

Dolar AS (USD) kembali menghadapi tekanan jual pada perdagangan hari Selasa (13/10) setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi baru pada hari Senin (12/10). Pelemahan Greenback terjadi di tengah naiknya harga minyak mentah dan pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang bervariasi. Investor kini cenderung berhati-hati menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat yang menjadi perhatian utama pasar pada hari Rabu. Indeks Dolar AS (DXY) terkoreksi ke kisaran 101,99 setelah mencatatkan kenaikan selama dua hari berturut-turut, mencerminkan meningkatnya sikap waspada pelaku pasar terhadap prospek kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).

Fokus utama pasar tertuju pada Indeks Harga Konsumen (IHK) AS yang berpotensi memengaruhi ekspektasi suku bunga dan arah pergerakan USD. Selain data inflasi, investor juga akan mencermati Pengajuan Hipotek MBA, publikasi Beige Book The Fed, serta laporan persediaan minyak mentah mingguan dari American Petroleum Institute (API). Sejumlah pejabat The Fed, termasuk Bowman dan Barkin, juga dijadwalkan menyampaikan pandangan mereka. Kombinasi data ekonomi dan pernyataan pejabat bank sentral tersebut berpotensi memicu volatilitas pada Dolar AS, imbal hasil obligasi, serta pasar keuangan secara keseluruhan.

Di pasar valuta asing, EURUSD menguat setelah memanfaatkan pelemahan USD, memantul dari area 1,1150 dan kembali menguji level 1,1200. Sementara itu, GBPUSD sempat menyentuh 1,3250 sebelum terkoreksi tipis di tengah perubahan sentimen pada aset berisiko. USDJPY masih bergerak dalam kisaran di area bawah 158,00 dan menguji Simple Moving Average (SMA) 200 hari, level teknikal penting yang dapat memengaruhi arah pergerakan selanjutnya. Adapun AUDUSD melanjutkan pergerakan fluktuatif mendekati level psikologis 0,7000. Perhatian berikutnya tertuju pada pernyataan pejabat Bank Sentral Eropa (ECB) dan Bank of England (BoE), serta sejumlah data ekonomi dari Jerman, Jepang, dan Australia.

Di pasar komoditas, minyak mentah WTI melanjutkan penguatan untuk hari keempat berturut-turut dan mendekati US$95 per barel. Kenaikan ini terjadi meskipun ketegangan terkait konflik AS–Iran dan situasi di Selat Hormuz mulai mereda. Pergerakan harga minyak tetap menjadi faktor penting bagi pasar karena dapat memengaruhi ekspektasi inflasi dan prospek kebijakan moneter. Jika harga energi kembali meningkat, tekanan inflasi berpotensi bertahan lebih lama, sedangkan penurunan harga minyak dapat membantu meredakan kekhawatiran tersebut. Perkembangan geopolitik dan laporan persediaan minyak AS pun tetap menjadi katalis yang perlu diperhatikan investor.

Sementara itu, harga Emas kembali melanjutkan penurunan setelah melemah pada hari Senin (12/10), dengan area US$4.150 per troy ounce menjadi zona hambatan yang diperhatikan pasar. Tekanan terhadap logam mulia tersebut menunjukkan bahwa pelemahan Dolar AS belum cukup untuk mendorong pemulihan harga secara berkelanjutan, terutama ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS bergerak bervariasi. Dalam jangka pendek, arah Emas akan sangat dipengaruhi oleh hasil data inflasi AS dan perubahan ekspektasi suku bunga The Fed. Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat dan membatasi kenaikan Emas, sedangkan data yang lebih rendah dapat membuka peluang pemulihan. Investor perlu mencermati rilis data tersebut sebagai penentu volatilitas USD, Emas, dan komoditas dalam sesi perdagangan berikutnya.


sumber : fxstreet