USD Melemah, Euro dan Emas Mulai Menguat

Dolar AS (USD) kembali menghadapi tekanan jual pada perdagangan hari Selasa dan bergerak menuju level terendah dalam dua hari. Pelemahan tersebut terjadi setelah meredanya kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Prancis memberikan sedikit dorongan terhadap sentimen risiko di pasar global. Indeks Dolar AS (DXY) kehilangan sebagian besar penguatan yang dibukukan pada awal pekan dan kembali menembus ke bawah level 102. Pelaku pasar kini menantikan sejumlah agenda ekonomi penting, termasuk data Permohonan Hipotek MBA, Ekspektasi Inflasi Konsumen dari Federal Reserve Bank of New York, serta Risalah Rapat FOMC. Pernyataan dari pejabat The Fed, Logan, juga akan menjadi perhatian investor untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter AS.

Pelemahan USD memberikan ruang bagi sejumlah mata uang utama untuk menguat. EURUSD kembali bergerak positif dan naik menuju puncak mingguan di sekitar 1,1280, meskipun level tersebut menjadi area resistance awal. Investor juga akan mencermati data Produksi Industri Jerman serta pernyataan pejabat ECB, termasuk Cipollone dan Vujčić. Sementara itu, GBPUSD menguat dengan cukup solid dan kembali mendekati level 1,3300 seiring melemahnya Greenback. Pelaku pasar Inggris akan memperhatikan data BBA Mortgage Rate dan Lloyds House Price Index sebagai indikator tambahan mengenai kondisi pasar perumahan Inggris.

Di kawasan Asia, USDJPY melanjutkan kenaikan dari hari Senin dan kembali menembus level 158,00. Namun, momentum pembelian masih terlihat terbatas karena investor tetap berhati-hati terhadap prospek kebijakan Bank of Japan. Sejumlah data ekonomi Jepang yang akan dirilis, seperti Reuters Tankan, Pendapatan Tunai Rata-Rata, serta indeks ekonomi Coincident dan Leading, akan menjadi perhatian pasar. Di sisi lain, AUDUSD mencatat kenaikan untuk hari ketiga berturut-turut dan bergerak mendekati level psikologis 0,7000. Data Building Permits, Private House Approvals, serta Ai Group Manufacturing Index berpotensi memberikan katalis baru bagi pergerakan Dolar Australia.

Di pasar energi, kontrak berjangka WTI melanjutkan penurunan dan mencatat pelemahan untuk hari ketiga berturut-turut. Harga minyak mentah kali ini sempat menembus ke bawah level US$87 per barel karena kekhawatiran mengenai pasokan dari Timur Tengah mulai mereda, meskipun pada akhirnya ditutup di US89,88 per barel. Kondisi tersebut mengurangi premi risiko yang sebelumnya menopang harga minyak, sementara pasar juga masih mempertimbangkan perkembangan pasokan global. Jika tekanan jual berlanjut dan WTI gagal kembali stabil di atas US$87, risiko penurunan menuju level support berikutnya akan semakin terbuka.

Sementara itu, emas (XAUUSD) mempertahankan pergerakan konsolidatif dengan kenaikan tipis, tetapi masih berada di bawah level psikologis US$4.200 per troy ons. Pelemahan USD serta penurunan imbal hasil obligasi Pemerintah AS secara keseluruhan memberikan dukungan bagi logam mulia tersebut. Kondisi ini menunjukkan bahwa emas mulai mendapatkan momentum positif setelah sebelumnya menghadapi tekanan dari USD yang kuat dan tingginya imbal hasil Treasury. Untuk jangka pendek, perhatian pasar akan tertuju pada Risalah FOMC dan data inflasi AS karena keduanya berpotensi menentukan arah USD, imbal hasil obligasi, serta pergerakan emas berikutnya.


sumber : fxstreet