Pasar Beralih ke Aset Aman, Konflik Timur Tengah dan Keputusan The Fed Jadi Sorotan

Sentimen risk-off mendominasi pasar pada perdagangan Rabu setelah konflik di Timur Tengah kembali memanas. Fokus investor kini tertuju pada hasil rapat kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) yang akan diumumkan pada sesi Amerika, beserta pernyataan resmi dan konferensi pers Ketua The Fed, Kevin Warsh, yang diharapkan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga selanjutnya.

Ketegangan geopolitik meningkat setelah Arab Saudi dilaporkan bergabung dalam konflik dengan melancarkan serangan terhadap kelompok-kelompok yang didukung Iran di Irak bersama Amerika Serikat, sebagai respons atas serangan pesawat nirawak Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang menargetkan fasilitas minyak Saudi. Di sisi lain, Iran mengklaim telah melancarkan serangan terhadap pangkalan militer AS di Yordania. Eskalasi tersebut kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah dan potensi gangguan pasokan energi global.

Seiring meningkatnya risiko geopolitik, harga minyak mentah kembali menguat setelah sebelumnya mengalami penurunan selama dua hari berturut-turut. West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di atas US$81 per barel, naik hampir 4% pada hari itu. Kenaikan harga minyak mencerminkan meningkatnya premi risiko akibat ketidakpastian pasokan dari kawasan penghasil minyak terbesar di dunia.

Analis Deutsche Bank menilai bahwa ketenangan yang sempat terjadi di pasar minyak telah berakhir secara tiba-tiba setelah Amerika Serikat mengonfirmasi berhasil mencegat serangan Iran yang menargetkan pangkalan-pangkalan militernya di Timur Tengah. Menurut Deutsche Bank, perkembangan tersebut mengakhiri jeda singkat dalam konflik yang sebelumnya sempat menekan harga minyak. Bank tersebut mencatat bahwa harga Brent turun dari level di atas US$100 per barel pada pekan lalu menjadi sekitar US$84,09 per barel, mencatat penurunan tiga hari terbesar sejak April 2020 sebelum akhirnya kembali menguat.

Pandangan serupa disampaikan oleh analis ING, yang menyebut bahwa harga minyak bangkit tajam setelah aksi jual besar selama tiga hari terakhir. Menurut ING, penguatan tersebut dipicu oleh laporan bahwa Amerika Serikat berhasil menggagalkan serangan terhadap pasukannya di Timur Tengah. Selain itu, Arab Saudi juga dilaporkan mencegat pesawat nirawak yang diluncurkan kelompok-kelompok pro-Iran di Irak yang menargetkan infrastruktur energi Saudi. Perkembangan tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pasokan minyak dunia.

Di pasar valuta asing, Indeks Dolar AS (DXY) bergerak relatif stabil di sekitar 101,30. Meskipun sentimen penghindaran risiko biasanya mendukung dolar sebagai aset safe haven, investor masih memilih menunggu hasil rapat The Fed sebelum mengambil posisi baru. Pasar secara umum memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga, namun CME FedWatch Tool masih menunjukkan sekitar 30% peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.

Pasangan EURUSD bergerak dalam kisaran sempit di sekitar 1,1400 setelah mencatat kenaikan tipis pada perdagangan sebelumnya. Sementara itu, GBPUSD diperdagangkan sedikit menguat di atas 1,3300, namun pergerakannya tetap terbatas karena investor masih menunggu hasil keputusan The Fed sebelum mengalihkan perhatian ke kebijakan Bank of England (BoE).

Analis ING memperkirakan The Fed kemungkinan besar akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan kali ini. Namun, mereka menilai bahwa penyampaian pernyataan yang lebih bernada hawkish tetap dapat mendorong kenaikan imbal hasil obligasi jangka pendek di Amerika Serikat maupun Eropa. Sebaliknya, apabila The Fed memberikan kejutan dengan menaikkan suku bunga, pasar saham global diperkirakan akan mengalami tekanan lebih besar akibat semakin ketatnya kondisi keuangan, terlebih ketika sentimen terhadap sektor teknologi dan kecerdasan buatan (AI) masih rapuh.

Dari kawasan Asia-Pasifik, data inflasi Australia menunjukkan bahwa Indeks Harga Konsumen (CPI) tahunan turun menjadi 3,8% pada Juni dari 4,0% pada bulan sebelumnya, lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 4,0%. Data tersebut menekan nilai tukar dolar Australia (AUD), sehingga pasangan AUDUSD turun ke level terendah dalam dua pekan di sekitar 0,6950.

Di pasar logam mulia, emas (XAUUSD) bergerak stabil di atas US$4.000 per troy ounce setelah mengalami penurunan selama dua hari berturut-turut. Di sisi lain, pasangan USDJPY melemah ke sekitar 163,50 pada perdagangan sesi Eropa, seiring investor tetap berhati-hati menjelang keputusan penting dari Federal Reserve.


Sumber: FXStreet