Inflasi Australia Naik ke 4%, Tekanan Harga Tetap Tinggi
Inflasi konsumen Australia meningkat pada Agustus, meskipun sedikit lebih rendah dari perkiraan pasar. Data Australian Bureau of Statistics (ABS) menunjukkan Indeks Harga Konsumen (CPI) naik 4,0% secara tahunan, dibandingkan 3,5% pada Juli dan di bawah ekspektasi ekonom sebesar 4,1%. Secara bulanan, CPI naik 0,4% dalam perhitungan awal dan 0,7% berdasarkan penyesuaian musiman.
Tekanan inflasi inti yang menjadi perhatian utama Reserve Bank of Australia (RBA) relatif stabil pada level tinggi. Trimmed mean, yang mengabaikan perubahan harga terbesar dan menjadi salah satu indikator utama RBA, tetap berada di 3,6% secara tahunan, sama seperti Juli, sementara secara bulanan naik 0,2%. Capital Economics mencatat tidak terdapat penguatan lebih lanjut pada inflasi inti, meskipun kenaikan trimmed mean sebesar 1,0% dalam tiga bulan masih berada di atas proyeksi RBA sebesar 0,8% per kuartal untuk kuartal III dan IV.
Kenaikan harga bahan bakar menjadi salah satu sumber utama tekanan inflasi. Harga bahan bakar kendaraan melonjak 14,8% pada Agustus dibandingkan Juli akibat kenaikan harga minyak global dan berakhirnya sebagian keringanan cukai bahan bakar dari pemerintah federal. Inflasi sektor transportasi juga meningkat 5,6% secara tahunan. Sementara itu, inflasi perumahan meningkat menjadi 5,7% dari 5,0% pada Juli, dengan harga hunian baru naik 5,4%, biaya listrik melonjak 13,2% setelah berakhirnya sejumlah subsidi pemerintah, dan harga sewa meningkat 3,6%.
Data inflasi tersebut dirilis sehari setelah RBA menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 4,60%, kenaikan keempat sepanjang tahun ini dan level tertinggi dalam 15 tahun. RBA menyatakan sejumlah risiko kenaikan inflasi mulai terealisasi, termasuk akibat tingginya biaya energi, tekanan kapasitas domestik dan kenaikan harga barang terkait teknologi. Bank sentral juga tetap membuka kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut jika diperlukan. Rapat kebijakan berikutnya dijadwalkan pada 2-3 November 2026, sehingga data inflasi terbaru akan menjadi salah satu bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan selanjutnya.
Capital Economics mencatat Gubernur RBA Michele Bullock mengatakan data CPI Agustus tidak akan menjadi faktor penentu keputusan berikutnya karena data tersebut bersifat retrospektif. Perusahaan tersebut memperkirakan RBA akan mengambil pendekatan wait and see dalam jangka pendek sambil menunggu bukti bahwa proses disinflasi mulai berlanjut, serta menilai data CPI terbaru mendukung pandangan bahwa suku bunga acuan telah mencapai puncaknya. Di pasar keuangan, mata uang Australia melemah terhadap dolar AS, dengan AUDUSD bergerak di 0,6968, sementara indeks S&P/ASX 200 naik sekitar 0,6%.
sumber : investing
