Indeks Dolar Melemah Jelang CPI AS, Pasar Menanti Sinyal Kebijakan The Fed

Indeks Dolar AS (DXY) melemah ke kisaran 101,93 pada perdagangan hari Rabu, seiring meredanya harga minyak dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Perhatian investor kini tertuju pada rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) AS bulan September 2026 yang berpotensi memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Selanjutnya, data Indeks Harga Produsen (PPI) dan Penjualan Ritel AS pada hari Kamis (15/10) juga akan menjadi katalis penting bagi pergerakan Greenback. Di tengah ketidakpastian inflasi, pelaku pasar cenderung berhati-hati dalam menentukan posisi menjelang rangkaian data ekonomi tersebut.

Ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed menunjukkan perbedaan antara pertemuan Oktober dan Desember 2026. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan 27–28 Oktober 2026 mencapai sekitar 79%, meningkat dari 51% sebulan sebelumnya. Namun, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan terakhir tahun ini di Desember 2026 diperkirakan mencapai 89,4%. Analis Danske Bank memproyeksikan inflasi utama AS sebesar 0,5% secara bulanan dan 3,6% secara tahunan, sementara inflasi inti diperkirakan mencapai 0,2% secara bulanan dan 2,5% secara tahunan. Kenaikan harga energi diperkirakan menjadi pendorong utama inflasi utama, sedangkan perhatian The Fed akan tertuju pada kemungkinan meluasnya tekanan harga ke komponen lainnya.

Sejumlah pejabat The Fed juga memberikan sinyal yang cenderung hawkish. Christopher Waller menyoroti bahwa permintaan terkait kecerdasan buatan (AI) mulai memengaruhi inflasi, sementara peningkatan produktivitas yang berpotensi meredakan tekanan harga membutuhkan waktu untuk terealisasi. Presiden The Fed Chicago Austan Goolsbee juga memperingatkan bahwa investasi AI berisiko mendorong permintaan agregat secara berlebihan dan memperpanjang tekanan inflasi. Danske Bank menilai kejutan kenaikan inflasi yang signifikan diperlukan agar The Fed memberikan sinyal kuat mengenai kenaikan suku bunga pada Oktober. Selain faktor moneter, investor turut memantau perkembangan pasokan solar Rusia dan konflik Timur Tengah setelah serangan Houthi terhadap wilayah Arab Saudi dilaporkan memicu kebakaran kecil di fasilitas Saudi Aramco, meskipun tidak ada korban jiwa.

Di pasar valuta asing, EURUSD menguat menembus 1,1200 menjelang pidato sejumlah pejabat Bank Sentral Eropa (ECB), termasuk Presiden Christine Lagarde. GBPUSD naik mendekati 1,3270 setelah Kepala Ekonom Bank of England (BoE) Huw Pill menyampaikan keraguan terhadap ekspektasi pasar mengenai empat kali kenaikan suku bunga dalam setahun ke depan. Sementara itu, USDJPY melemah tipis di sekitar 158,30. Pasar swap memperkirakan peluang kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ) pada Oktober masih relatif rendah, yakni hampir 10%, tetapi meningkat menjadi sekitar 88% untuk Desember. Dari Asia, inflasi konsumen Tiongkok naik 0,9% secara tahunan pada September 2026, di bawah ekspektasi 1,0%, sedangkan inflasi produsen melonjak 5,0%, melampaui perkiraan pasar sebesar 4,5%. Perbedaan data tersebut memberikan gambaran beragam mengenai tekanan harga di ekonomi terbesar kedua dunia.

Sementara itu, harga Emas (XAUUSD) turun mendekati US$4.150 per troy ounce karena investor menunggu kepastian arah inflasi AS dan kebijakan The Fed. Pelemahan Dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi sebenarnya dapat memberikan dukungan bagi logam mulia, tetapi ekspektasi suku bunga yang tetap tinggi berpotensi membatasi penguatannya. Apabila CPI AS melampaui perkiraan, Dolar AS berpeluang kembali menguat karena pasar dapat meningkatkan taruhan terhadap pengetatan kebijakan moneter, sehingga menambah tekanan terhadap Emas. Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dapat melemahkan Greenback dan membuka ruang pemulihan bagi XAUUSD. Dengan demikian, rilis CPI pada hari Rabu dan data PPI serta Penjualan Ritel pada hari Kamis (15/10) akan menjadi penentu penting arah DXY, pasangan mata uang utama, dan harga Emas dalam jangka pendek.


sumber : fxstreet