Harga Minyak Turun, Harapan Kesepakatan AS–Iran Redakan Kekhawatiran Pasokan

Harga minyak mentah turun pada perdagangan hari Jumat setelah laporan mengenai pembahasan kesepakatan bertahap antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz meredakan sebagian kekhawatiran terhadap pasokan. Namun, risiko geopolitik masih tetap tinggi setelah kelompok Houthi melancarkan serangan rudal ke Arab Saudi. Harga West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan turun 1,6% ke level ke US$93,21 per barel saat berita ini ditulis Pukul 14.15 WIB.

Harga minyak tersebut sebelumnya sempat melonjak hingga sekitar 5% pada perdagangan hari Kamis sebelum memangkas sebagian kenaikannya menyusul laporan mengenai pembicaraan AS–Iran. Penguatan awal dipicu oleh pernyataan Arab Saudi bahwa pihaknya berhasil mencegat enam rudal balistik yang diluncurkan kelompok Houthi yang didukung Iran dari Yaman menuju sejumlah wilayah, termasuk Taif dan kawasan Yanbu di Laut Merah.

Serangan tersebut kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur minyak dan jalur ekspor Arab Saudi, terutama setelah kerusakan sebelumnya pada jaringan pipa East-West mengganggu pengiriman minyak mentah menuju Yanbu. Risiko tersebut menjadi perhatian karena Yanbu merupakan salah satu pusat ekspor utama di Laut Merah yang terhubung dengan ladang minyak di wilayah timur Arab Saudi. Riyadh telah meningkatkan pengiriman minyak mentah menuju Yanbu, tetapi aktivitas pemuatan tanker di pelabuhan tersebut belum sepenuhnya kembali normal.

Kenaikan harga minyak kemudian tertahan setelah laporan menyebutkan bahwa negosiator AS dan Iran di New York tengah mengeksplorasi jalur bertahap untuk mengakhiri konflik. Dalam skenario tersebut, Teheran akan membuka kembali Selat Hormuz sebagai imbalan atas pencabutan blokade ekonomi AS terhadap Iran. Selat Hormuz menjadi salah satu kartu tawar utama dalam negosiasi, sementara kedua pihak masih berhati-hati untuk tidak melepaskan posisi tawar sebelum memperoleh konsesi. Reuters melaporkan hanya 17 kapal pengangkut komoditas yang melintasi selat tersebut dalam satu akhir pekan, jauh di bawah rata-rata sebelum perang sekitar 125 kapal per hari, meskipun pengiriman minyak masih berlangsung dalam volume yang lebih rendah.

Dari sisi fundamental AS, data persediaan minyak memberikan tekanan tambahan terhadap harga. Stok minyak mentah komersial AS meningkat 3 juta barel dalam pekan yang berakhir 18 September, berbanding ekspektasi analis yang memperkirakan penurunan 641.000 barel. Sementara itu, persediaan bensin turun 1,7 juta barel dan distilat berkurang 400.000 barel. Pasar diesel juga menjadi perhatian setelah harga bahan bakar AS mencapai rekor tertinggi. Pemerintahan Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan langkah untuk meningkatkan pasokan diesel domestik, termasuk kemungkinan pembatasan sukarela ekspor diesel yang sedang dibahas Menteri Energi Chris Wright dengan sejumlah perusahaan penyulingan besar. Pembahasan tersebut muncul setelah laporan mengenai kemungkinan larangan ekspor selama 90 hari, meskipun Gedung Putih telah membantah rencana tersebut.


sumber : investing