Harga Minyak Rebound, Risiko Geopolitik Jadi Penopang
West Texas Intermediate (WTI), yang menjadi patokan harga minyak mentah Amerika Serikat, kembali menarik minat beli pada perdagangan hari Rabu dan mencatat kenaikan untuk hari kedua berturut-turut. Pergerakan tersebut memperpanjang pemulihan harga setelah WTI sebelumnya jatuh ke level terendah dalam lebih dari satu bulan. Meski demikian, momentum bullish masih terlihat terbatas karena pelaku pasar belum menunjukkan keyakinan yang kuat untuk mendorong harga lebih tinggi. WTI diperdagangkan naik 0,19% ke level US$90,05 per barel saat berita ini ditulis Pukul 14.00 WIB.
Salah satu faktor utama yang memberikan dukungan terhadap harga minyak adalah meningkatnya premi risiko geopolitik di Timur Tengah. Ketegangan antara kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman dan Arab Saudi kembali meningkat. Dalam perkembangan terbaru, pasukan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan memperoleh dukungan Arab Saudi mengklaim telah menguasai sejumlah titik strategis di sepanjang pesisir Laut Merah, termasuk wilayah di sekitar Selat Bab al-Mandeb. Situasi tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pada jalur perdagangan dan distribusi energi global.
Kelompok Houthi kemudian merespons dengan melancarkan serangan terhadap sejumlah target penting di Arab Saudi, termasuk fasilitas kilang Aramco di Riyadh. Eskalasi tersebut berpotensi meningkatkan risiko terhadap infrastruktur energi di kawasan Timur Tengah dan mendorong pelaku pasar untuk kembali memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga minyak. Selain itu, laporan mengenai meningkatnya serangan Iran terhadap kapal tanker di sekitar Selat Hormuz turut memperbesar kekhawatiran terhadap keamanan salah satu jalur perdagangan minyak paling strategis di dunia.
Tekanan terhadap pasokan energi juga datang dari perkembangan cuaca di Amerika Serikat. Badai yang berkembang di kawasan Teluk Meksiko berpotensi mengganggu aktivitas produksi, transportasi, maupun penyulingan minyak dan gas di wilayah tersebut. Kombinasi risiko geopolitik di Timur Tengah dan ancaman terhadap infrastruktur energi AS membantu menutupi sebagian besar meredanya kekhawatiran mengenai pasokan global. Kondisi ini memberikan dukungan bagi WTI untuk mempertahankan pemulihan setelah sebelumnya mengalami tekanan jual yang cukup signifikan.
Meskipun demikian, WTI masih membutuhkan katalis yang lebih kuat untuk mempertahankan kenaikannya. Kurangnya aksi beli lanjutan menunjukkan bahwa pelaku pasar masih berhati-hati dan belum sepenuhnya yakin terhadap prospek bullish minyak mentah. Oleh karena itu, kenaikan di atas US$89,50 perlu dikonfirmasi dengan kemampuan harga untuk bertahan di atas level tersebut sebelum membuka peluang apresiasi yang lebih besar. Dalam jangka pendek, arah WTI akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik Timur Tengah, kondisi Selat Hormuz, serta dampak badai terhadap produksi energi AS.
sumber : fxstreet
