Harga Minyak Menguat di Tengah Ketegangan AS–Iran dan Ketidakpastian Pasokan
Harga minyak mentah bergerak menguat pada perdagangan hari Kamis, melanjutkan kenaikan tajam pada hari sebelumnya. Pelaku pasar menimbang kembali meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran dengan masih terbukanya peluang diplomasi untuk mengakhiri konflik. West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di US$92,62 per barel, saat berita ini ditulis Pukul 13.55 WIB.
Kenaikan harga minyak tersebut mengikuti pernyataan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dalam Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang menegaskan bahwa Iran tidak akan menyerah terhadap tekanan Amerika Serikat, namun tetap membuka ruang bagi diplomasi. Pernyataan ini disampaikan sehari setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan kemungkinan mengambil tindakan ekstrem terhadap Iran apabila kesepakatan untuk mengakhiri konflik tidak tercapai. Seorang pejabat senior Iran juga menyampaikan bahwa Teheran sedang meninjau tanggapan Washington terhadap proposal penghentian permusuhan, meskipun masih terdapat perbedaan signifikan antara kedua pihak.
Selat Hormuz tetap menjadi fokus utama pasar minyak global karena jalur strategis tersebut biasanya menangani sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas dunia. Pembicaraan tidak langsung antara AS dan Iran mencakup kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz serta pencabutan blokade angkatan laut AS terhadap Iran. Namun, Kepala Keamanan Iran Mohsen Rezaei menegaskan bahwa jalur perairan tersebut tidak akan dibuka sebelum persyaratan Teheran dipenuhi. Ketidakpastian ini membuat risiko gangguan pasokan tetap menjadi faktor penting dalam pergerakan harga minyak.
Di sisi lain, peningkatan pasokan dari kawasan Teluk membatasi potensi kenaikan harga minyak lebih lanjut. Arab Saudi telah mengaktifkan kembali operasional jalur pipa East-West menuju Laut Merah, sementara Irak meningkatkan ekspor minyak dan berencana menambah pengiriman melalui Turki. Perhatian pasar juga tertuju pada sektor diesel AS setelah muncul laporan bahwa Gedung Putih mempertimbangkan larangan ekspor diesel selama 90 hari. Namun, laporan tersebut kemudian dibantah oleh Gedung Putih dan disebut sebagai berita palsu.
Data persediaan minyak mentah AS turut menjadi perhatian pelaku pasar. Administrasi Informasi Energi AS (EIA) melaporkan bahwa persediaan minyak mentah meningkat 3 juta barel menjadi 426,4 juta barel pada pekan yang berakhir 18 September, berlawanan dengan ekspektasi analis yang memperkirakan penurunan sebesar 640.000 barel. Sementara itu, persediaan bensin turun 1,7 juta barel dan stok produk sulingan, termasuk diesel serta minyak pemanas, berkurang 400.000 barel. Data tersebut menjadi sangat relevan bagi pasar diesel karena pasokannya masih menghadapi tekanan meskipun persediaan minyak mentah AS mengalami peningkatan.
sumber : investing
