Harga Minyak Melemah, Risiko Geopolitik Timur Tengah Batasi Penurunan

Harga West Texas Intermediate (WTI), acuan minyak mentah AS, bergerak melemah pada perdagangan hari Jumat setelah mencatat kenaikan selama dua hari berturut-turut. Penurunan tersebut menghentikan pemulihan pada hari sebelumnya dari sekitar level terendah dalam hampir empat minggu. WTI saat ini diperdagangkan di sekitar US$91,96 per barel, turun sekitar 0,96% pada Pukul 13.40 WIB, meski tekanan turun terlihat terbatas di tengah meningkatnya risiko eskalasi ketegangan di Timur Tengah.

Pergerakan minyak masih dipengaruhi oleh perkembangan geopolitik di kawasan Teluk Persia. Wall Street Journal melaporkan bahwa Pentagon berpotensi segera mengirim kelompok serang kapal induk ketiga beserta sekitar 10 ribu pelaut dan Marinir ke Teluk Persia. Langkah tersebut meningkatkan perhatian pasar terhadap kemungkinan eskalasi konflik yang dapat mengganggu jalur distribusi dan pasokan minyak mentah global.

Di sisi lain, Otoritas Selat Teluk Persia Iran (PGSA) menyatakan bahwa sejumlah kapal tanker telah diserang di Selat Hormuz dalam beberapa hari terakhir. Selat tersebut merupakan jalur penting bagi perdagangan energi global, sehingga setiap gangguan terhadap aktivitas pelayaran dapat meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak.

Ketidakpastian juga meningkat setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Rabu bahwa dirinya akan segera mengambil keputusan terkait langkah terhadap Iran dan menambahkan bahwa perang akan segera berakhir dengan satu atau lain cara. Pernyataan tersebut menjaga premi risiko geopolitik tetap tinggi dan menjadi faktor yang dapat memberikan dukungan terhadap harga minyak mentah.

Dengan demikian, meskipun WTI mengalami koreksi setelah penguatan dua hari sebelumnya, risiko geopolitik masih menjadi faktor pembatas bagi penurunan lebih lanjut. Pasar akan terus mencermati perkembangan AS–Iran dan situasi di Selat Hormuz karena eskalasi baru berpotensi meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan serta kembali mendorong harga minyak.


sumber : fxstreet