Harga Minyak Melemah, Negosiasi AS–Iran dan Stok AS Jadi Sorotan
Harga minyak mentah dunia bergerak melemah pada perdagangan hari Rabu di tengah ketidakpastian mengenai peluang tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Pelaku pasar masih mencermati perkembangan diplomasi kedua negara sekaligus mempertimbangkan dampak hasil pemilu paruh waktu AS terhadap kebijakan pemerintahan Donald Trump dalam menghadapi konflik tersebut. Pada sesi awal perdagangan Eropa, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 0,35% ke level US$96,36 per barel.
Penurunan tersebut memperpanjang penurunan selama dua hari perdagangan sebelumnya. Pada hari Selasa (3/11), WTI sempat berada di US$93,57 per barel, yang merupakan level terendah dalam hampir empat minggu. Pelemahan sebelumnya dipicu oleh meningkatnya harapan bahwa upaya diplomatik antara Washington dan Teheran dapat menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri konflik. Kedua negara dilaporkan tengah mempertimbangkan proposal baru dari sejumlah mediator yang bertujuan menjembatani perbedaan kepentingan dan mencegah konflik berkembang menjadi perang terbuka.
Qatar turut meningkatkan perannya sebagai mediator dengan mengirimkan perwakilannya ke Teheran pada hari Senin (2/11) untuk melakukan pembicaraan dengan pejabat Iran sebelum kembali ke Doha. Namun, peluang tercapainya kesepakatan damai masih belum menunjukkan kepastian. Seorang pejabat senior Iran menyampaikan bahwa tanggapan Washington terhadap proposal perdamaian terbaru dinilai belum memuaskan. Di tengah berlangsungnya upaya diplomasi, Amerika Serikat juga dilaporkan melancarkan serangan militer terbatas ke Pulau Qeshm, Iran, pada hari Senin (2/11)dengan menargetkan sistem rudal pertahanan udara yang digunakan untuk menyerang aset-aset AS. Perkembangan tersebut membuat pelaku pasar tetap waspada terhadap potensi eskalasi konflik yang dapat mengganggu pasokan energi global.
Selain perkembangan geopolitik, hasil pemilu paruh waktu AS menjadi faktor penting yang diperhatikan investor karena berpotensi memengaruhi posisi politik Donald Trump dan arah kebijakan pemerintahannya terhadap konflik Iran. Sebelum pemungutan suara berlangsung, kekhawatiran mengenai kemungkinan peningkatan operasi militer setelah pemilu sempat mendorong harga minyak mencapai level tertinggi dalam enam bulan terakhir. Namun, munculnya sinyal positif dari jalur diplomasi kemudian memicu pembalikan harga secara tajam. Kini, pasar berada dalam posisi menunggu kejelasan apakah pemerintahan AS akan lebih mengutamakan penyelesaian konflik melalui negosiasi atau kembali meningkatkan tekanan militer terhadap Iran.
Dari sisi fundamental, laporan persediaan minyak mentah Amerika Serikat memberikan dukungan tambahan terhadap harga minyak. American Petroleum Institute (API) melaporkan bahwa stok minyak mentah AS turun sebesar 5,267 juta barel pada pekan yang berakhir 30 Oktober, berbanding terbalik dengan ekspektasi analis yang memperkirakan kenaikan sebesar 2,1 juta barel. Sementara itu, persediaan bensin meningkat 1,427 juta barel, sedangkan stok produk distilat mengalami penurunan sebesar 270.000 barel. Secara keseluruhan, penurunan persediaan minyak mentah yang lebih besar dari perkiraan berpotensi menopang harga WTI. Dalam jangka pendek, arah pergerakan minyak dunia akan sangat bergantung pada perkembangan negosiasi AS–Iran, risiko gangguan pasokan di Timur Tengah, serta data persediaan energi resmi AS dari EIA.
sumber : investing
