Harga Minyak Melemah di Tengah Harapan Solusi Diplomatik AS-Iran
Harga minyak mentah kembali melemah pada perdagangan Selasa seiring pelaku pasar terus mencermati perkembangan hubungan antara Amerika Serikat dan Iran. Harapan terhadap tercapainya solusi diplomatik antara kedua negara meningkatkan optimisme bahwa pasokan energi dari kawasan Timur Tengah dapat kembali normal, sehingga mengurangi premi risiko geopolitik yang sebelumnya menopang harga minyak.
West Texas Intermediate (WTI) melemah 1,36% ke level US$80,88 per barel. Sebelumnya, harga minyak tersebut sempat turun sekitar 1% dan menyentuh level terendah dalam lebih dari satu pekan.
Sentimen negatif dipicu oleh pernyataan Presiden Donald Trump yang menyebutkan bahwa Amerika Serikat sedang melakukan “pembicaraan yang konstruktif” dengan Iran dan terdapat peluang untuk mencapai penyelesaian konflik. Meski demikian, Trump menegaskan bahwa serangan militer dapat kembali dilanjutkan apabila proses negosiasi tidak membuahkan hasil. Di sisi lain, Iran juga memberikan pernyataan serupa dengan menegaskan akan melakukan aksi balasan jika terjadi eskalasi kembali.
Analis pasar dari IG, Tony Sycamore, mengatakan bahwa untuk sementara waktu pasar merasa lega karena terdapat peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi. Menurutnya, kondisi tersebut telah mengurangi tekanan terhadap harga minyak sekaligus meredakan kekhawatiran atas serangan kelompok Houthi terhadap infrastruktur energi Arab Saudi. Namun, ia mengingatkan bahwa situasi di kawasan Timur Tengah masih sangat dinamis sehingga berpotensi berubah sewaktu-waktu.
Sementara itu, Afrah al-Zouba, calon Menteri Luar Negeri pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan didukung Arab Saudi, menyatakan bahwa kelompok Houthi berupaya meniru strategi Iran dalam mengendalikan jalur pelayaran, khususnya di kawasan Bab el-Mandeb. Langkah tersebut dinilai dapat mengganggu distribusi energi global apabila eskalasi konflik kembali meningkat.
Analis Marex, Edward Meir, menilai kemampuan militer Houthi untuk menerapkan blokade penuh terhadap jalur pelayaran masih diragukan karena mereka akan menghadapi tekanan besar dari Arab Saudi. Meski demikian, ia mengakui bahwa aktivitas pelayaran di Laut Merah maupun Selat Hormuz telah mengalami penurunan yang cukup signifikan. Menurutnya, salah satu alasan mengapa harga minyak belum melonjak lebih tinggi adalah melemahnya permintaan global, terutama dari kawasan Asia, yang membatasi kenaikan harga meskipun risiko geopolitik masih tinggi.
Senada dengan itu, analis Barclays melaporkan bahwa arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz masih berada pada level yang relatif rendah. Dalam sepekan yang berakhir pada 24 Juli, ekspor bersih minyak mentah dan produk olahan melalui selat tersebut rata-rata hanya mencapai 2,9 juta barel per hari, turun tajam dibandingkan 5,9 juta barel per hari pada pekan sebelumnya. Data ini menunjukkan bahwa aktivitas distribusi energi di kawasan tersebut belum sepenuhnya pulih.
Di sisi lain, hasil survei awal Reuters menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah Amerika Serikat kemungkinan mengalami penurunan pada pekan lalu, diikuti oleh berkurangnya stok bensin. Sebaliknya, persediaan produk sulingan (distillate) diperkirakan meningkat. Data resmi mengenai persediaan energi tersebut akan menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat memberikan petunjuk baru mengenai keseimbangan antara pasokan dan permintaan minyak global.
Sumber: Reuters.
