Harga Minyak Kembali Menguat! Serangan Houthi dan Ancaman Konflik Timur Tengah Pemicunya
Harga minyak mentah dunia kembali menguat pada perdagangan hari Rabu setelah mengalami penurunan selama dua hari berturut-turut. Kenaikan ini dipicu oleh serangan terbaru kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap Arab Saudi, sehingga meningkatkan kekhawatiran bahwa upaya diplomatik untuk meredakan ketegangan di Timur Tengah dapat kembali menghadapi hambatan. West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,33% ke level US$101,52 per barel pada sesi Eropa. Sebelumnya, harga minyak sempat mencapai level tertinggi dalam enam bulan terakhir, sebelum terkoreksi akibat optimisme terhadap peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik.
Ketegangan geopolitik kembali meningkat setelah kelompok Houthi pada hari Selasa (27/10) mengklaim telah menargetkan kilang minyak Ras Tanura di Arab Saudi, salah satu fasilitas pengolahan minyak terbesar di negara tersebut, menggunakan rudal balistik. Serangan ini menyusul aksi sebelumnya terhadap stasiun pompa di sepanjang jalur pipa minyak East-West Arab Saudi serta Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Jalur pipa East-West memiliki peran strategis karena memungkinkan pengiriman minyak mentah menuju Laut Merah tanpa harus melewati Selat Hormuz. Serangkaian serangan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan infrastruktur energi dan jalur ekspor alternatif, terutama ketika aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz masih mengalami gangguan serius akibat konflik yang melibatkan Iran.
Di sisi diplomatik, Arab Saudi, Turki, dan Pakistan sebelumnya telah mengadakan pembicaraan dengan pejabat Iran di Teheran pada hari Senin (26/10). Menurut laporan media pemerintah Iran, ketiga negara sepakat melanjutkan dialog untuk memperkuat perdamaian dan keamanan kawasan. Namun, serangan terbaru Houthi menunjukkan bahwa risiko eskalasi konflik masih membayangi prospek stabilitas Timur Tengah. Analis ING menilai bahwa tren kenaikan harga minyak dalam beberapa pekan terakhir mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan konflik kembali memanas. Mereka juga memperkirakan bahwa kejelasan mengenai arah perkembangan geopolitik mungkin baru akan terlihat setelah pemilihan paruh waktu Amerika Serikat pada 3 November 2026. Laporan mengenai kemungkinan Presiden Donald Trump melancarkan operasi militer intensif terhadap Iran setelah pemilu tersebut turut menambah ketidakpastian pasar.
Selain faktor geopolitik, data persediaan minyak mentah Amerika Serikat turut memberikan dukungan terhadap harga. American Petroleum Institute (API) melaporkan bahwa persediaan minyak mentah AS turun sebesar 2,03 juta barel pada pekan yang berakhir 23 Oktober, berlawanan dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan sebesar 800.000 barel. Penurunan ini melanjutkan penyusutan persediaan sebesar 4,93 juta barel pada pekan sebelumnya. Meski demikian, data persediaan produk energi menunjukkan gambaran yang beragam, dengan stok bensin meningkat sebesar 2,39 juta barel dan persediaan produk distilat bertambah 380.000 barel. Investor kini menantikan laporan resmi dari Energy Information Administration (EIA) yang dijadwalkan dirilis pada hari Rabu untuk memperoleh gambaran lebih lengkap mengenai kondisi pasokan dan permintaan energi di AS.
Ke depan, pergerakan harga minyak diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh kombinasi risiko geopolitik, data persediaan energi, dan keputusan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz serta ancaman terhadap infrastruktur minyak Arab Saudi berpotensi mempertahankan premi risiko dan menopang harga minyak pada level tinggi. Namun, perkembangan diplomatik yang positif dapat kembali menekan harga apabila kekhawatiran terhadap gangguan pasokan mulai mereda. Di sisi lain, keputusan The Fed juga menjadi perhatian karena arah kebijakan suku bunga akan memengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi dan permintaan bahan bakar. Harga minyak yang tinggi dapat memperbesar tekanan inflasi dan mempersulit pengambilan keputusan bank sentral. Dengan demikian, pelaku pasar perlu mencermati perkembangan konflik Timur Tengah, laporan resmi EIA, dan pernyataan The Fed untuk mengantisipasi potensi volatilitas harga WTI dalam waktu dekat.
sumber : investing
