Harga Minyak Bertahan di Level Rendah, Hasil Pemilu AS Picu Harapan Perdamaian dengan Iran
Harga minyak mentah dunia masih bertahan di dekat level terendah dalam dua bulan pada perdagangan hari Kamis, 5 November 2026, setelah mengalami penurunan tajam lebih dari 8% pada hari sebelumnya. Sentimen pasar berubah setelah kemenangan besar Partai Demokrat dalam pemilihan paruh waktu Amerika Serikat meningkatkan harapan bahwa pemerintahan Donald Trump akan menghadapi tekanan politik lebih besar untuk mengakhiri konflik dengan Iran. Pada perdagangan awal sesi Eropa, harga West Texas Intermediete (WTI) bergerak di USD87,01 per barel, turun 1,11%.
Penurunan harga minyak dipicu oleh perubahan ekspektasi geopolitik. Kemenangan Demokrat di DPR dan Senat dipandang berpotensi membatasi ruang gerak Trump dalam melanjutkan operasi militer, termasuk melalui pengawasan anggaran dan tekanan politik terhadap kebijakan luar negeri. Pasar menilai kondisi tersebut dapat mendorong Washington untuk lebih mengutamakan jalur diplomasi guna mengakhiri perang dengan Iran. Trump sendiri mengakui bahwa konflik tersebut turut memengaruhi kekalahan politik Partai Republik dalam pemilu.
Harapan tercapainya kesepakatan damai juga memberikan tekanan tambahan terhadap harga minyak karena berpotensi memulihkan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah. Jika konflik mereda, distribusi minyak melalui Selat Hormuz dapat berjalan lebih normal sehingga mengurangi risiko gangguan pasokan global. Namun, proses diplomasi masih menghadapi tantangan. Qatar memang meningkatkan upaya mediasi antara Washington dan Teheran, tetapi seorang pejabat senior Iran menyatakan bahwa kedua negara masih jauh dari kesepakatan untuk mengakhiri perang.
Dari sisi fundamental, data persediaan minyak Amerika Serikat memberikan sedikit dukungan terhadap harga. Laporan Energy Information Administration (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah AS turun 865 ribu barel pada pekan yang berakhir 30 Oktober 2026. Persediaan bensin juga berkurang 222 ribu barel, sementara stok distilat turun lebih besar, yakni 3,565 juta barel. Penurunan tersebut mengindikasikan permintaan produk energi masih cukup kuat, tetapi untuk sementara belum mampu mengimbangi tekanan jual yang berasal dari membaiknya ekspektasi pasokan global.
Ke depan, pergerakan minyak mentah akan sangat dipengaruhi perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran, kelanjutan negosiasi perdamaian, serta kondisi distribusi energi melalui Selat Hormuz. Apabila proses diplomasi menunjukkan kemajuan nyata, harga WTI berpotensi menghadapi tekanan lanjutan karena premi risiko geopolitik semakin berkurang. Sebaliknya, kegagalan negosiasi atau meningkatnya kembali aktivitas militer dapat memicu pemulihan harga secara cepat. Dengan demikian, meskipun tren jangka pendek masih cenderung bearish, volatilitas pasar minyak diperkirakan tetap tinggi selama ketidakpastian geopolitik belum sepenuhnya mereda.
sumber : investing
