Harga Emas Tertekan USD, Risiko Geopolitik Jadi Sorotan
Harga Emas (XAUUSD) kembali menghadapi tekanan di tengah dominasi Dolar AS (USD) yang masih mempertahankan momentum bullish. Pada perdagangan hari Kamis, XAUUSD hanya mampu mencatat kenaikan tipis dan tetap bergerak di bawah US$4.150. Kondisi ini menjadi sinyal bahwa pemulihan harga dari level terendah dua bulan belum sepenuhnya meyakinkan, terutama karena kekuatan USD dan tingginya imbal hasil obligasi AS masih menjadi penghambat utama bagi logam mulia. Pasar kini menunggu katalis baru untuk menentukan apakah rebound Emas mampu berlanjut atau justru kembali kehilangan tenaga.
Tekanan terhadap Emas semakin kuat setelah risalah rapat FOMC 15–16 September menunjukkan kecenderungan pejabat The Fed untuk mempertahankan sikap hawkish. Mayoritas peserta rapat menilai kenaikan suku bunga tambahan kemungkinan masih diperlukan pada akhir tahun guna menghadapi inflasi yang dinilai terlalu persisten. Meskipun demikian, pasar belum sepenuhnya mengantisipasi perubahan kebijakan pada pertemuan Oktober 2026. Ekspektasi tersebut sedikit memberikan ruang bagi Emas untuk bernapas, tetapi belum cukup kuat untuk membalikkan tekanan bearish yang berasal dari kebijakan moneter AS dan penguatan USD.
Pasar suku bunga juga masih menjadi ancaman bagi XAUUSD. Berdasarkan CME Group FedWatch Tool, pelaku pasar masih memperhitungkan sekitar 80% peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember 2026. Di saat yang sama, kekhawatiran bahwa inflasi dapat bertahan lebih lama dari perkiraan, terutama akibat volatilitas harga energi, menjaga imbal hasil obligasi AS tetap tinggi di dekat level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Kombinasi USD yang kuat dan imbal hasil obligasi yang tinggi cenderung mengurangi daya tarik Emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil. Dengan demikian, setiap reli XAUUSD berpotensi menghadapi aksi jual selama belum terdapat perubahan signifikan pada ekspektasi kebijakan The Fed.
Di luar faktor moneter, risiko geopolitik justru berpotensi menjadi penggerak utama pasar dalam jangka pendek. Pentagon dilaporkan telah meminta US Central Command (CENTCOM) menyelesaikan persiapan untuk kemungkinan melanjutkan operasi tempur berskala besar di Iran, sementara Presiden AS Donald Trump disebut tengah mempertimbangkan waktu pelaksanaan serangan. Jika eskalasi tersebut benar-benar terjadi, pasar global berpotensi menghadapi lonjakan volatilitas dan permintaan terhadap aset safe haven. Namun, situasi ini tidak serta-merta menjadi katalis bullish bagi Emas karena USD juga memiliki status safe haven dan dapat menjadi pilihan utama investor ketika ketegangan geopolitik meningkat.
Dengan demikian, XAUUSD masih membutuhkan dorongan beli yang jauh lebih kuat untuk mengonfirmasi terbentuknya dasar harga jangka pendek. Fokus pasar selanjutnya tertuju pada data Klaim Tunjangan Pengangguran Awal Mingguan AS serta pernyataan sejumlah pejabat FOMC yang berpotensi memberikan petunjuk baru mengenai arah kebijakan suku bunga. Di saat yang sama, perkembangan konflik di Timur Tengah harus terus dipantau karena setiap eskalasi dapat memicu pergerakan tajam pada USD maupun Emas. Untuk saat ini, tekanan fundamental masih cenderung bearish terhadap XAUUSD, sehingga kenaikan harga perlu disertai volume dan momentum yang kuat sebelum dapat dianggap sebagai awal dari pembalikan tren yang lebih besar.
sumber : fxstreet
