Harga Emas Tertekan, Penguatan USD dan Imbal Hasil Treasury Jadi Beban Utama
Harga emas (XAUUSD) kembali melemah pada perdagangan hari Kamis setelah mengalami aksi jual tajam pada hari sebelumnya. Kenaikan harga minyak, penguatan Dolar AS, dan meningkatnya imbal hasil obligasi Treasury AS terus memberikan tekanan terhadap logam mulia, seiring pelaku pasar mengevaluasi kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) lebih lanjut. XAUUSD diperdagangkan turun 0,3% ke level US$4.275 per troy ons saat berita ini ditulis Pukul 14.05 WIB.
Prospek kebijakan moneter The Fed tetap menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan emas. Kenaikan harga energi berpotensi mempertahankan tekanan inflasi, sehingga meningkatkan kemungkinan bank sentral AS menerapkan kebijakan suku bunga yang lebih ketat. Suku bunga yang lebih tinggi cenderung membebani emas karena aset ini tidak memberikan imbal hasil. Selain itu, kenaikan harga minyak akibat ketegangan terkait Selat Hormuz turut memperkuat kekhawatiran bahwa inflasi akan bertahan lebih lama dari perkiraan.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan di hadapan Perserikatan Bangsa-Bangsa bahwa Iran tidak akan menjamin kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz selama sanksi dan blokade AS masih diberlakukan. Ia menegaskan bahwa Teheran tetap terbuka untuk bernegosiasi, tetapi tidak akan menanggapi ancaman. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa upaya diplomasi antara Washington dan Teheran masih menghadapi tantangan, meskipun Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyebut pembicaraan dengan utusan Iran berlangsung sangat baik. Ketidakpastian geopolitik ini terus memengaruhi harga energi dan sentimen pasar emas.
Tekanan terhadap emas semakin besar setelah pasar obligasi Treasury AS kembali mengalami aksi jual menyusul data ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan serta hasil lelang surat utang yang kurang menggembirakan. Imbal hasil di sebagian besar tenor mencapai level tertinggi dalam hampir dua dekade, sementara imbal hasil Treasury lima tahun menembus 5% untuk pertama kalinya sejak 2007. Aktivitas bisnis AS juga berkembang pada laju tercepat dalam lebih dari lima tahun. Gubernur The Fed Michael Barr menyatakan bahwa kenaikan suku bunga tambahan kemungkinan diperlukan untuk mengembalikan inflasi menuju target 2%. Pasar swap kini memperhitungkan sedikitnya tiga kali kenaikan suku bunga The Fed hingga April tahun depan, meningkat dibandingkan ekspektasi pada awal pekan.
Meskipun menghadapi tekanan jangka pendek, emas masih memperoleh dukungan dari faktor permintaan jangka panjang. Namun, untuk saat ini, kombinasi pertumbuhan ekonomi AS yang kuat, kenaikan imbal hasil Treasury, harga minyak yang lebih tinggi, dan Dolar AS yang relatif kokoh masih membatasi ruang pemulihan logam mulia. Pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan kebijakan The Fed, data inflasi, serta dinamika geopolitik untuk menilai arah pergerakan harga emas berikutnya.
sumber : investing
