Harga Emas Tertekan, Pelaku Pasar Incar Level US$4.100

Emas (XAUUSD) kembali menarik tekanan jual setelah bergerak konsolidatif pada perdagangan sebelumnya. Pada hari Selasa, harga emas turun ke level terendah dalam dua bulan, dengan para penjual kini mengincar penembusan di bawah level US$4.100 sebagai sinyal untuk melanjutkan tekanan bearish. Meskipun ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada Oktober 2026 mulai berkurang, Dolar AS (USD) masih menunjukkan penguatan dan menjadi salah satu faktor utama yang membebani permintaan terhadap emas.

Data ekonomi Amerika Serikat yang dirilis pekan lalu menunjukkan bahwa inflasi mulai melambat dan kondisi pasar tenaga kerja sedikit mengalami pendinginan. Di sisi lain, harga minyak mentah bertahan di dekat level terendah empat minggu setelah pasokan dari Timur Tengah tetap relatif kuat dan negara-negara G7 melakukan pelepasan stok minyak darurat. Kondisi tersebut meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dan mengurangi tekanan terhadap The Fed untuk segera menaikkan suku bunga. Meski demikian, pasar masih memperkirakan peluang lebih dari 85% bahwa bank sentral AS akan kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun.

Deutsche Bank menilai bahwa pelemahan data payrolls belum cukup untuk mengubah gambaran pasar tenaga kerja AS secara fundamental. Meskipun data ketenagakerjaan utama mengecewakan, indikator lain seperti data ADP dan klaim pengangguran masih menunjukkan ketahanan pasar tenaga kerja. Berdasarkan kondisi tersebut, Deutsche Bank masih memperkirakan adanya dua kali kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin dalam beberapa kuartal mendatang. Dari sisi pasar, ekspektasi kenaikan suku bunga dalam 12 bulan ke depan memang telah turun menjadi sekitar 86 basis poin dari 100 basis poin pada awal pekan sebelumnya, tetapi angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan sekitar 70 basis poin sesaat setelah data payrolls dirilis. Hal ini menunjukkan bahwa ekspektasi pengetatan kebijakan moneter masih tetap kuat.

Tekanan terhadap emas juga datang dari faktor geopolitik dan tingginya imbal hasil obligasi AS yang membuat USD bertahan di dekat level tertinggi sejak April 2025. Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman mengklaim melancarkan serangkaian serangan menggunakan rudal dan drone terhadap sejumlah sasaran di Arab Saudi. Di sisi lain, koalisi pimpinan Arab Saudi menyatakan telah menghancurkan fasilitas peluncuran rudal balistik dan sejumlah fasilitas penyimpanan. Laporan mengenai persiapan Israel untuk kemungkinan melakukan serangan terhadap Iran, baik bersama AS maupun secara independen, turut meningkatkan risiko eskalasi konflik di kawasan tersebut. Sementara itu, tekanan fiskal di Prancis memicu aksi jual di pasar obligasi dan turut menjaga imbal hasil obligasi AS pada level tinggi, sehingga memberikan dukungan tambahan bagi USD.

Dalam waktu dekat, perhatian pasar akan tertuju pada Risalah Rapat FOMC yang dijadwalkan dirilis pada hari Rabu. Pernyataan dari sejumlah pejabat The Fed serta perkembangan geopolitik di Timur Tengah juga akan menjadi faktor penting yang menentukan arah USD dan emas. Secara fundamental, kombinasi USD yang kuat, imbal hasil obligasi AS yang tinggi, serta ekspektasi kebijakan moneter yang masih cenderung ketat membuat XAUUSD menghadapi risiko penurunan lebih lanjut. Jika harga mampu menembus dan bertahan di bawah US$4.100, tekanan jual berpotensi semakin kuat dan membuka ruang bagi penurunan menuju level-level support berikutnya. Namun, pelaku pasar kemungkinan masih menunggu konfirmasi dari Risalah FOMC sebelum mengambil posisi bearish yang lebih agresif.


sumber : fxstreet