Harga Emas Tertekan, Pasar Menanti Risalah FOMC
Emas (XAUUSD) masih berada di bawah tekanan jual pada hari Rabu dan diperdagangkan tidak jauh dari level terendah dalam dua bulan, di sekitar US$4.100 per troy ons yang sempat disentuh pada perdagangan sebelumnya. Penguatan kembali Dolar AS (USD) menjadi faktor utama yang membebani harga emas, terutama karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil. Pelaku pasar kini menunggu rilis Risalah Rapat FOMC untuk memperoleh petunjuk baru mengenai arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed), yang berpotensi menentukan pergerakan USD maupun emas dalam jangka pendek.
Data ekonomi AS yang dirilis pekan lalu menunjukkan bahwa inflasi mulai melandai dan kondisi pasar tenaga kerja sedikit mengalami pendinginan. Perkembangan tersebut mengurangi tekanan bagi The Fed untuk segera menaikkan suku bunga. Namun, ekspektasi pasar masih menunjukkan kecenderungan hawkish. Berdasarkan CME Group FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan sekitar 85% peluang bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember 2026. Oleh karena itu, Risalah FOMC akan menjadi perhatian utama karena investor akan mencari indikasi mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga berikutnya serta pandangan para pejabat The Fed terhadap perkembangan inflasi dan ekonomi AS.
Pandangan dari BNY Markets menunjukkan bahwa berkurangnya ekspektasi kenaikan suku bunga pada Oktober 2026 tidak serta-merta mengubah prospek kebijakan The Fed dalam jangka pendek. Para ahli strategi bank tersebut menilai bahwa peluang kenaikan suku bunga pada Desember 2026 masih cukup terbuka dan memperkirakan kenaikan berikutnya dapat terjadi menjelang akhir tahun. Namun, prospek kebijakan moneter pada 2027 dinilai lebih sulit diprediksi, terutama karena perkembangan konflik di Timur Tengah berpotensi memengaruhi harga minyak dan menciptakan tekanan inflasi dari sisi pasokan. Ketidakpastian tersebut dapat membuat The Fed mengambil pendekatan yang lebih hati-hati dalam menentukan kebijakan suku bunga.
Di tengah penantian Risalah FOMC, ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi serta kenaikan kembali imbal hasil obligasi AS turut meningkatkan permintaan terhadap USD sebagai aset safe haven. Situasi di Timur Tengah kembali memanas setelah pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi mengklaim menguasai sejumlah titik strategis di sepanjang pesisir Laut Merah, termasuk wilayah sekitar Selat Bab al-Mandeb. Di sisi lain, kelompok Houthi yang didukung Iran dilaporkan melakukan serangan terhadap sejumlah target penting di Arab Saudi, termasuk fasilitas kilang Aramco di Riyadh. Perkembangan tersebut meningkatkan risiko gangguan terhadap jalur pasokan energi global.
Selain itu, meningkatnya aktivitas militer Iran di sekitar Selat Hormuz turut mendorong harga minyak mentah untuk pulih dari level terendah satu bulan. Kenaikan harga energi berpotensi memicu kembali kekhawatiran terhadap inflasi sehingga menjaga imbal hasil obligasi AS tetap tinggi dan memberikan dukungan tambahan bagi USD. Kondisi tersebut menjadi faktor negatif bagi emas dan meningkatkan risiko tekanan jual terhadap XAUUSD. Di sisi lain, Bank Sentral Tiongkok masih melanjutkan pembelian emas selama 23 bulan berturut-turut, yang secara fundamental memberikan dukungan terhadap permintaan jangka panjang. Namun, untuk saat ini, faktor tersebut belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan dari USD yang menguat, imbal hasil Treasury yang tinggi, serta ekspektasi kebijakan The Fed yang masih cenderung ketat.
sumber : fxstreet
