Harga Emas Tertekan di Tengah Gejolak Pasar
Harga emas (XAUUSD) anjlok lebih dari 2% pada perdagangan hari Kamis (22/10), tertekan oleh perubahan sentimen investor yang mendorong aliran dana menuju obligasi pemerintah Amerika Serikat (Treasury). Meskipun imbal hasil Treasury dan pasar saham AS mengalami penurunan, emas justru kehilangan daya tariknya sebagai aset lindung nilai. Kekhawatiran terhadap risiko kredit di sektor teknologi turut membebani sentimen pasar, terutama di tengah keraguan investor mengenai kemampuan investasi besar-besaran dalam teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk menghasilkan keuntungan yang sepadan. Saat berita ini ditulis, XAUUSD diperdagangkan di sekitar US$4.024 setelah sebelumnya menyentuh level terendah dalam sepuluh minggu di US$4.020,91.
Sentimen pasar yang memburuk juga dipengaruhi oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik antara kelompok Houthi dan Arab Saudi kembali memanas, sementara Amerika Serikat memerintahkan evakuasi dari kedutaannya di Arab Saudi. Di tengah laporan bahwa Washington dan Yerusalem tengah mempersiapkan kemungkinan serangan terhadap Iran, harga energi bergerak lebih tinggi. Kondisi tersebut meningkatkan permintaan terhadap aset yang dianggap lebih aman, terutama Treasury AS, sekaligus memberikan tekanan tambahan terhadap emas.
Imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun turun sekitar 15 basis poin menjadi 4,963%, sekaligus mencapai level terendah sejak 23 September 2026. Secara teori, penurunan imbal hasil biasanya memberikan dukungan bagi emas karena mengurangi biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil. Namun, situasi kali ini berbeda. Lonjakan harga energi dan meningkatnya kebutuhan investor untuk memperoleh keamanan sekaligus imbal hasil membuat dana lebih banyak mengalir ke Treasury AS. Di sisi lain, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 1,80% ke sekitar US$99 per barel, sementara Indeks Dolar AS (DXY) relatif stabil di level 101,47.
Dari sisi data ekonomi, Klaim Tunjangan Pengangguran Awal AS untuk pekan yang berakhir pada 17 Oktober tercatat sebesar 194 ribu, lebih rendah dari perkiraan maupun angka sebelumnya yang berada di 200 ribu. Angka tersebut bahkan menjadi yang terendah dalam hampir 57 tahun. Rata-rata klaim selama empat minggu juga turun menjadi 197,75 ribu, menunjukkan bahwa kondisi pasar tenaga kerja masih relatif kuat dengan tingkat pemutusan hubungan kerja yang rendah. Meski data inflasi AS pada pekan sebelumnya lebih tinggi dari perkiraan, pelaku pasar sejauh ini masih mengesampingkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada Oktober 2026. Berdasarkan Prime Terminal, peluang kenaikan suku bunga pada Oktober hanya sekitar 8%, sedangkan untuk Desember 2026 mendekati 80%.
Selanjutnya, perhatian pasar akan tertuju pada rilis data Sentimen Konsumen Universitas Michigan yang dapat memberikan gambaran mengenai kondisi kepercayaan konsumen AS. Namun, fokus utama investor akan beralih pada pertemuan Federal Reserve (The Fed) pekan depan. Setelah keputusan kebijakan moneter tersebut, pasar juga akan mencermati rilis Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (PCE) Inti sebagai salah satu indikator inflasi yang menjadi perhatian utama The Fed. Kombinasi kebijakan suku bunga, perkembangan inflasi, pergerakan imbal hasil Treasury, serta risiko geopolitik akan menjadi faktor penting yang menentukan arah harga emas selanjutnya.
sumber : fxstreet
