Harga Emas Pulih Tipis, Masih Dekat Level Terendah Tujuh Pekan
Harga emas menguat tipis pada hari Selasa setelah anjlok sekitar 4% pada hari sebelumnya, tetapi masih berada di dekat level terendah dalam tujuh pekan. Pada pukul 13.40, XAUUSD naik 0,68% menjadi US$4.144,11 per troy ounce. Perak XAGUSD menguat 0,51% ke US$60,92. Sementara itu, Indeks Dolar AS (DXY) naik 0,05% ke 100,99.
Kenaikan harga minyak kembali menjadi tekanan bagi emas karena Iran masih bertahan pada persyaratannya untuk membuka kembali Selat Hormuz. Pejabat Iran secara tertutup dilaporkan pesimistis dapat mencapai kesepakatan dengan Washington untuk mengakhiri konflik sebelum pemilihan umum paruh waktu AS pada November, setelah Presiden Donald Trump menolak proposal terbaru Teheran untuk membuka kembali jalur pelayaran penting tersebut dalam waktu tujuh hari. Konflik AS-Iran yang kini memasuki bulan kedelapan terus memberikan tekanan terhadap arus energi global dan meningkatkan ekspektasi inflasi.
Lonjakan kembali harga minyak juga memperburuk aksi jual di pasar Treasury AS pada Senin. Imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun naik ke level tertinggi dalam 19 tahun, sehingga meningkatkan biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan pendapatan bunga. Aksi jual Treasury yang dimulai setelah konflik AS-Iran pecah pada akhir Februari semakin intensif dalam sebulan terakhir dan meningkatkan risiko terhadap perekonomian karena kenaikan imbal hasil mendorong biaya pinjaman. Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack mengatakan kenaikan imbal hasil jangka panjang mencerminkan sejumlah faktor, termasuk prospek pertumbuhan yang lebih kuat, kekhawatiran terhadap utang pemerintah, serta ekspektasi kenaikan suku bunga tambahan.
Harga emas kini telah turun sekitar 7% sepanjang September, meskipun sempat mencapai sekitar US$4.510 pada awal bulan. Pelemahan tersebut terjadi setelah The Fed menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya sejak 2023 dan membuka kemungkinan kenaikan lanjutan untuk menghadapi inflasi AS yang masih persisten. Pasar kini memperkirakan probabilitas sekitar 70% untuk kenaikan suku bunga kembali pada Oktober. ANZ menyebut emas telah turun ke sekitar US$4.130 per ounce karena kenaikan imbal hasil Treasury memicu aksi jual baru, sementara harga energi yang lebih tinggi semakin memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.
Gubernur The Fed Lisa Cook mengatakan pada hari Senin bahwa peningkatan produktivitas yang didorong kecerdasan buatan (AI) mungkin belum cukup untuk mengimbangi tekanan inflasi dalam jangka pendek. Investasi besar-besaran pada pusat data juga meningkatkan persaingan untuk sumber daya bersama, termasuk energi dan tenaga kerja konstruksi. ANZ menilai kondisi makroekonomi jangka pendek masih menjadi tantangan bagi emas karena kenaikan imbal hasil dan risiko inflasi membebani logam mulia. Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) pada hari Rabu dan laporan nonfarm payrolls pada hari Jumat sebagai petunjuk terbaru mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed.
sumber : investing
