Harga Emas Melonjak, Pelemahan Dolar AS dan Imbal Hasil Treasury Jadi Pendorong
Harga emas dunia melonjak menembus US$4.130 per troy ounce setelah hasil pemilihan paruh waktu Amerika Serikat memicu pelemahan tajam dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah. Pergerakan ini mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap emas sebagai aset lindung nilai, di tengah perubahan ekspektasi politik dan ekonomi di Amerika Serikat. Melemahnya dolar juga membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lainnya.
Kenaikan tersebut didorong oleh kemenangan Partai Demokrat yang berhasil menguasai DPR dan Senat AS. Hasil pemilu ini memunculkan ekspektasi terjadinya kebuntuan politik antara Kongres dan pemerintahan Presiden Donald Trump, sehingga sejumlah kebijakan belanja pemerintah, pemotongan pajak, dan agenda ekonomi berpotensi menghadapi hambatan. Investor menilai ketidakpastian arah kebijakan tersebut dapat menekan dolar AS dan meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS mengalami penurunan di berbagai tenor. Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun ke sekitar 4,87%, sehingga mengurangi biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan bunga atau kupon. Kombinasi antara pelemahan dolar dan turunnya yield menjadi katalis utama yang mendorong harga emas kembali menguat setelah sebelumnya sempat terkoreksi cukup dalam.
Pada perdagangan awal sesi Eropa di hari Kamis, harga emas spot naik sekitar 1,68% ke US$4.128,97 per troy ounce. Penguatan ini melanjutkan kenaikan sekitar 3,4% pada hari sebelumnya dan membawa emas ke level tertinggi dalam dua pekan. Meski demikian, investor masih perlu mencermati perkembangan kebijakan Federal Reserve karena ekspektasi kenaikan suku bunga pada Desember masih cukup tinggi, sekitar 82%.
Fokus pasar berikutnya tertuju pada laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat atau Non-Farm Payrolls (NFP) yang dijadwalkan dirilis hari Jumat (6/11). Data tersebut akan menjadi salah satu pertimbangan penting bagi investor dalam memperkirakan arah kebijakan moneter The Fed. Apabila data tenaga kerja menunjukkan pelemahan, ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter dapat meningkat dan berpotensi memberikan dukungan tambahan bagi emas. Sebaliknya, data yang lebih kuat dari perkiraan dapat memperkuat dolar AS dan mendorong kenaikan yield, sehingga berisiko membatasi penguatan logam mulia.
Secara keseluruhan, prospek emas dalam jangka pendek cenderung positif selama dolar AS dan imbal hasil Treasury tetap berada dalam tekanan. Analis melihat area USD4.200 sebagai target pemulihan berikutnya apabila harga mampu bertahan di atas USD4.000, bahkan potensi menuju USD4.400 turut terbuka jika arus investasi terus mendukung. Namun, pelaku pasar perlu mewaspadai volatilitas menjelang rilis NFP dan perkembangan geopolitik di Timur Tengah.
sumber : reuters
