Harga Emas Kembali Tertekan, Spot Gold Turun di Bawah US$3.950

Harga emas dunia kembali melemah pada perdagangan hari Selasa setelah sempat mencatatkan rebound pada hari sebelumnya. Tekanan jual yang kembali melanda pasar logam mulia membuat harga emas spot turun menembus level US$3.950 per troy ounce. Pada perdagangan sesi awal Eropa, emas spot tercatat turun 0,78% ke US$3.915,33 per ounce. Penurunan juga terjadi pada logam mulia lainnya, dengan perak terkoreksi 3% ke US$49,11. Di sisi lain, indeks dolar AS justru turun tipis 0,02% ke level 101,62.

Sebelumnya, harga emas sempat menguat 1,9% pada perdagangan hari Senin (2/11) setelah Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa pemerintahannya memperoleh kewenangan lebih besar dari pemimpin tertinggi Iran untuk melanjutkan upaya negosiasi perdamaian. Presiden AS Donald Trump juga memberikan sinyal adanya kemajuan dalam pembicaraan tersebut. Perkembangan ini sempat meredakan kekhawatiran pasar terhadap konflik di Timur Tengah dan mendorong harga minyak mentah anjlok lebih dari 7% sebelum akhirnya stabil pada perdagangan hari Selasa. Namun, optimisme terhadap jalur diplomasi belum cukup kuat untuk mempertahankan penguatan emas.

Konflik antara AS dan Iran yang telah berlangsung selama sembilan bulan menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga energi dan meningkatkan tekanan inflasi global. Kondisi tersebut memperbesar kemungkinan bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan kembali menaikkannya. Suku bunga yang lebih tinggi umumnya menjadi tekanan bagi emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga seperti obligasi atau instrumen berbunga lainnya. Meski demikian, penurunan harga minyak dalam beberapa waktu terakhir sempat mengurangi kekhawatiran terhadap pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut. Sebagai catatan, sepanjang Oktober 2026 harga emas telah merosot 6,8%, menembus level psikologis US$4.000 dan sempat menyentuh posisi terendah dalam satu tahun.

Tekanan terhadap emas juga datang dari aksi jual saham-saham teknologi, khususnya sektor yang berkaitan dengan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Pelemahan saham tersebut mendorong sebagian investor mencairkan kepemilikan emas untuk menutup kerugian di aset lain. Kondisi ini kembali membebani harga emas setelah saham-saham teknologi Asia ikut melemah pada hari Selasa, menyusul aksi jual yang lebih dalam pada saham perusahaan semikonduktor di Amerika Serikat. Di sisi lain, pemilihan paruh waktu AS atau midterm elections berpotensi menjadi katalis penting bagi pergerakan emas. Hasil pemilu yang dapat mengubah peta politik AS berpotensi mengembalikan perhatian investor terhadap persoalan inflasi dan defisit fiskal, sehingga meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi dan geopolitik.

Walaupun tekanan jual masih membayangi, sejumlah faktor berpotensi memberikan dukungan bagi harga emas. Indikator teknikal Relative Strength Index (RSI) sempat memasuki wilayah oversold pada pekan lalu, yang mengindikasikan bahwa harga emas berpeluang mengalami pemulihan apabila tekanan jual mulai mereda. Permintaan fisik juga menjadi faktor penopang, terutama dari rumah tangga di China yang meningkatkan pembelian ketika harga mengalami penurunan, sebagaimana disampaikan ANZ. Namun, prospek emas masih dibayangi ketidakpastian konflik Timur Tengah. Harapan terhadap kemajuan diplomasi dapat berubah sewaktu-waktu apabila kembali terjadi eskalasi militer. Dengan demikian, pergerakan emas dalam jangka pendek diperkirakan tetap sensitif terhadap perkembangan geopolitik, arah kebijakan suku bunga AS, hasil pemilu paruh waktu, serta dinamika pasar saham global.


sumber : investing