Harga Emas Anjlok, Tertekan Imbal Hasil Treasury dan Prospek The Fed

Harga emas (XAUUSD) memulai pekan dengan tekanan berat dan anjlok lebih dari 3,4% pada perdagangan hari Senin. Pelemahan tersebut terjadi di tengah lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) dan harga minyak yang tetap tinggi, meskipun minyak telah turun dari level tertingginya setelah muncul berbagai perkembangan terkait potensi kesepakatan AS–Iran. XAUUSD diperdagangkan turun dan ditutup di US$4.114,8 per troy ons setelah sebelumnya mencapai level tertinggi US$4.278,41.

Tekanan inflasi masih menjadi perhatian pasar meskipun harga West Texas Intermediate (WTI), acuan minyak mentah AS, bergerak turun menuju US$93,00 per barel. WTI masih mencatat kenaikan sekitar 0,6% setelah pada awal perdagangan pekan sempat melonjak hampir 3%. Pergerakan harga energi dan ketidakpastian geopolitik membuat investor tetap berhati-hati terhadap kemungkinan dampaknya terhadap inflasi dan kebijakan moneter The Fed.

Sentimen pasar semakin bergejolak akibat laporan yang saling bertentangan mengenai kemungkinan kesepakatan antara AS dan Iran. Laporan Al Hadath menyebutkan bahwa Iran menyetujui penghentian program pengayaan uraniumnya, tetapi informasi tersebut kemudian dibantah oleh Press TV yang menyatakan bahwa posisi Teheran tidak berubah. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump juga menolak kesepakatan dengan Iran yang bertujuan membuka kembali Selat Hormuz. Ketidakpastian tersebut turut mempertahankan premi risiko di pasar energi dan keuangan.

Di pasar obligasi, imbal hasil Treasury AS 10 tahun sempat melonjak ke 5,27%, level tertinggi sejak Juni 2007, sebelum turun kembali ke sekitar 5,23%. Kenaikan imbal hasil semakin diperkuat oleh pernyataan sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) mengenai risiko inflasi yang masih tinggi. Gubernur The Fed Lisa Cook menyampaikan pandangan hawkish dan memperkirakan tekanan inflasi dapat berlanjut dalam beberapa bulan mendatang, antara lain akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan ketegangan di Timur Tengah. Kondisi tersebut meningkatkan tekanan terhadap emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Pasar kini memperkirakan peluang sekitar 65% untuk kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada pertemuan Oktober, sementara probabilitas kenaikan pada Desember mencapai sekitar 94% menurut Prime Terminal. Perhatian investor selanjutnya beralih ke rangkaian data ekonomi AS, termasuk Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS), laporan perubahan ketenagakerjaan ADP September, inflasi inti Personal Consumption Expenditures (PCE), serta laporan Nonfarm Payrolls (NFP) September. Data-data tersebut akan menjadi petunjuk penting bagi pasar dalam menilai arah kebijakan The Fed dan pergerakan emas selanjutnya.


sumber : fxstreet