Harga Emas Anjlok, Ekspektasi Suku Bunga Tinggi Tekan XAUUSD
Harga emas kembali melemah pada perdagangan hari Senin setelah mencatat penurunan mingguan lebih dari 2%. Tekanan terhadap logam mulia semakin kuat karena harga minyak yang tinggi dan data aktivitas ekonomi Amerika Serikat (AS) yang solid memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) perlu mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama. XAUUSD diperdagangkan turun 2,65% ke level $4.177,88 per troy ons saat berita ini ditulis Pukul 13.20 WIB.
Tekanan juga terjadi pada logam mulia lainnya. Perak XAGUSD turun 4,2% menjadi US$61,6. Sementara itu, Indeks Dolar AS naik 0,15% menjadi 100,9. Di pasar energi, harga minyak kembali menguat setelah Iran menyatakan tidak akan melonggarkan persyaratannya untuk membuka kembali Selat Hormuz, sehingga ketidakpastian terhadap jalur penting pasokan energi global masih tinggi. Presiden AS Donald Trump sebelumnya menolak proposal Iran untuk membuka kembali jalur tersebut selama tujuh hari, meskipun mengatakan negosiasi dengan Teheran diperkirakan kembali berlangsung pekan ini.
Konflik AS–Iran kini memasuki bulan kedelapan, sementara harga minyak telah meningkat sekitar 70% sepanjang tahun ini. Harga energi yang bertahan tinggi meningkatkan kekhawatiran inflasi dan menjadi salah satu faktor penting bagi pasar dalam menilai arah kebijakan The Fed. Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack mengatakan imbal hasil Treasury jangka panjang terdorong naik oleh ekspektasi pertumbuhan yang lebih kuat, kekhawatiran terhadap utang pemerintah, serta kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan.
Para pejabat The Fed secara bulat menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada pertengahan September 2026 dan sejumlah pembuat kebijakan sejak saat itu mengindikasikan bahwa kenaikan tambahan mungkin diperlukan. Pasar memperkirakan probabilitas sekitar 65% untuk kenaikan suku bunga kembali pada Oktober 2026. Tekanan terhadap emas juga berasal dari pasar obligasi, dengan selisih imbal hasil Treasury 10 tahun dan dua tahun menyempit hingga sekitar 17 basis poin pada pekan lalu, level terendah sejak awal 2025. Sepanjang September 2026, harga emas bergerak dalam kisaran relatif sempit US$4.230–US$4.510 dan masih berada jauh di bawah rekor US$5.598,02 yang dicapai pada Januari 2026.
ANZ menilai kondisi makroekonomi masih menantang bagi emas karena imbal hasil yang lebih tinggi dan Dolar AS yang kuat memberikan tekanan terhadap harga. Namun, permintaan melalui exchange-traded fund (ETF) emas tetap solid, dengan kepemilikan ETF emas meningkat sekitar 50 ton sepanjang bulan ini. Sentimen konsumen AS juga melemah pada September ke level terendah dalam empat bulan akibat meningkatnya kekhawatiran terhadap harga dan kondisi ekonomi. Selanjutnya, perhatian pasar akan tertuju pada data inflasi PCE Agustus pada hari Rabu dan laporan ketenagakerjaan September pada hari Jumat. Kedua data tersebut, terutama indikator inflasi pilihan The Fed dan pertumbuhan lapangan kerja, akan menjadi petunjuk penting bagi pasar dalam menilai kemungkinan kenaikan suku bunga berikutnya.
sumber : investing
