GBPUSD Tertekan Jelang Badai Data: Anggaran Inggris dan Keputusan The Fed

Pasangan mata uang GBPUSD bergerak melemah ke sekitar 1,3335 pada awal perdagangan Eropa hari Selasa. Pergerakan tersebut mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar yang cenderung menghindari pembukaan posisi besar menjelang dua agenda penting pada hari Rabu (28/10), yakni penyampaian Anggaran Musim Gugur Inggris dan keputusan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) Amerika Serikat. Ketidakpastian yang menyelimuti kedua agenda tersebut membuat Pound bergerak terbatas, sementara investor memilih menunggu sinyal yang lebih jelas mengenai arah kebijakan fiskal Inggris dan suku bunga AS.

Dari Inggris, pasar menaruh perhatian besar pada anggaran pemerintah di tengah meningkatnya biaya pinjaman global serta harga energi yang masih tinggi akibat konflik di Timur Tengah. Pemerintah Inggris menghadapi tantangan untuk memperkuat kondisi keuangan publik, antara lain melalui reformasi tunjangan kesehatan dan disabilitas serta perubahan sistem perpajakan. Kebutuhan meningkatkan penerimaan negara juga menjadi perhatian, dengan kenaikan tarif pajak penghasilan sebesar satu poin persentase berpotensi menghasilkan sekitar £11 miliar per tahun pada tahun fiskal 2029–2030. Kebijakan tersebut diharapkan dapat membantu menutup kebutuhan belanja, termasuk peningkatan anggaran pertahanan, meskipun berisiko memberikan tekanan terhadap aktivitas ekonomi.

Di sisi moneter, perhatian investor beralih ke The Fed yang diperkirakan mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,75%–4% setelah menaikkannya sebesar 25 basis poin pada pertemuan September 2026. Pasar saat ini hanya memberikan probabilitas sekitar 10,5% terhadap kenaikan suku bunga pada pertemuan hari Rabu (28/10), meskipun tingginya harga energi masih membuka peluang kenaikan sebelum akhir tahun. Sementara itu, prospek kebijakan Bank of England (BoE) justru menjadi salah satu faktor yang menopang Pound. Commerzbank menilai kombinasi inflasi yang kembali meningkat, perbaikan pasar tenaga kerja, serta pertumbuhan ekonomi yang relatif kuat dapat mendorong perubahan sikap BoE. Ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga pertama bahkan telah banyak diperhitungkan pasar, disusul potensi kenaikan berikutnya hingga pertengahan tahun depan.

Tekanan inflasi Inggris juga menjadi faktor penting dalam menentukan arah kebijakan BoE. Kenaikan harga energi kini memberikan kontribusi yang semakin besar terhadap inflasi, sementara komponen yang sangat bergantung pada energi membuat target inflasi 2% secara praktis sudah tercapai jika dilihat dari sejumlah komponen tertentu. Namun, inflasi sektor jasa dan komponen yang lebih rendah intensitas energinya masih memberikan tekanan signifikan sehingga inflasi secara keseluruhan kembali menjauh dari target. Di tengah kondisi tersebut, ketahanan pasar tenaga kerja dan pertumbuhan upah yang diperkirakan berada di sekitar 3,5% memperkuat kekhawatiran mengenai risiko efek putaran kedua terhadap inflasi. Pandangan hawkish dari pejabat BoE seperti Greene pun semakin memperkecil kemungkinan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat dan berpotensi menopang imbal hasil obligasi serta nilai Pound.

Dengan latar belakang tersebut, prospek GBPUSD dalam jangka pendek masih akan sangat ditentukan oleh kombinasi kebijakan fiskal Inggris, keputusan The Fed, dan arah kebijakan BoE. Anggaran pemerintah yang relatif terkendali dapat memberikan sentimen positif terhadap Pound, sementara ekspektasi pengetatan BoE, inflasi yang lebih kuat, serta perbaikan kondisi ketenagakerjaan menjadi faktor pendukung tambahan. Di sisi lain, apabila The Fed mempertahankan suku bunga dengan nada yang lebih hawkish, Dolar AS berpotensi kembali mendapatkan dukungan dan membatasi kenaikan GBPUSD. Oleh karena itu, pelaku pasar kemungkinan masih memilih strategi menunggu hingga agenda penting hari Rabu memberikan petunjuk yang lebih jelas mengenai arah pasangan mata uang tersebut.


sumber : fxstreet