Emas Tertekan Usai Keputusan The Fed, Pasar Menanti Data Inflasi AS

Harga emas dunia melemah pada perdagangan hari Kamis setelah Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya. Keputusan tersebut sebenarnya telah diperkirakan oleh pasar, tetapi minimnya kejelasan mengenai arah kebijakan moneter berikutnya membuat investor berhati-hati dalam mengambil posisi. Pada saat berita ini ditulis di awal sesi Eropa, harga emas spot turun 0,97% menjadi US$4.027,49 per troy ounce. Pelemahan juga terjadi pada logam mulia lainnya, dengan perak turun 2,37% menjadi US$52,69 per ounce.

Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) memutuskan mempertahankan suku bunga melalui pemungutan suara dengan hasil 10 banding 2. Meskipun keputusan ini tidak mengejutkan pasar, pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai kemungkinan pengurangan jumlah rapat kebijakan moneter terjadwal dari delapan menjadi enam kali per tahun mulai musim gugur mendatang turut menjadi perhatian investor. Di sisi lain, ekspektasi kenaikan suku bunga pada Desember 2026 masih membayangi pasar seiring dengan tingginya harga energi yang berpotensi memperlambat penurunan inflasi. Kondisi ini menjadi tantangan bagi The Fed dalam menentukan kebijakan yang tepat untuk menjaga stabilitas harga. Ketidakpastian mengenai arah suku bunga membuat investor cenderung berhati-hati, sehingga pergerakan emas masih rentan terhadap perubahan ekspektasi kebijakan moneter AS.

Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada rilis data Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Personal (Personal Consumption Expenditures/PCE) Amerika Serikat untuk September, yang menjadi salah satu indikator inflasi utama pilihan The Fed. Data tersebut dinilai penting untuk memberikan petunjuk mengenai kemungkinan arah suku bunga hingga akhir tahun. Apabila inflasi tercatat lebih tinggi daripada perkiraan, ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat berpotensi meningkat dan mendorong penguatan dolar AS, sehingga memberikan tekanan tambahan terhadap emas. Sebaliknya, data inflasi yang lebih rendah dapat memperkuat harapan pelonggaran kebijakan moneter dan membuka peluang bagi emas untuk kembali menguat. Dengan demikian, hasil PCE berpotensi menjadi katalis penting yang menentukan arah pergerakan harga emas dalam jangka pendek.

Selain kebijakan moneter, tekanan terhadap emas juga datang dari gejolak pasar saham, khususnya terkait besarnya investasi perusahaan teknologi dalam pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Kekhawatiran bahwa pengeluaran AI dapat membebani arus kas perusahaan telah meningkatkan kehati-hatian investor. Pada pekan sebelumnya, aksi jual saham yang dipicu sektor AI mendorong sebagian investor melepas emas untuk menutup kerugian di aset lain. Situasi tersebut turut menekan harga emas hingga mencapai level terendah sejak Juli 2026. Sepanjang Oktober 2026, harga emas telah terkoreksi sekitar 2,5% dan berpotensi mencatat penurunan bulanan untuk dua bulan berturut-turut. Perkembangan ini menunjukkan bahwa emas tidak selalu bergerak menguat ketika pasar mengalami tekanan, terutama saat investor membutuhkan likuiditas untuk memenuhi kebutuhan dana atau menutup kerugian investasi.

Meskipun menghadapi tekanan dalam jangka pendek, prospek emas dalam jangka panjang masih memperoleh dukungan dari pembelian bank sentral. Goldman Sachs memperkirakan bank sentral membeli sekitar 79 ton emas pada Agustus 2026, hampir lima kali lipat dibandingkan rata-rata pembelian bulanan sebelum 2022. China tercatat menyumbang sekitar 25 ton dari total pembelian tersebut. Rick Kanda, direktur pelaksana The Gold Bullion Company, menilai permintaan bank sentral yang berkelanjutan dapat membantu menopang harga emas dan memberikan fondasi bagi kenaikan dalam jangka panjang. Pembelian tersebut melengkapi sejumlah faktor lain yang memengaruhi emas, termasuk suku bunga, kepercayaan investor, dan ketidakpastian geopolitik. Secara keseluruhan, pergerakan emas masih akan ditentukan oleh kombinasi data inflasi AS, arah kebijakan The Fed, kekuatan dolar, dan permintaan bank sentral. Investor perlu mencermati perkembangan tersebut karena emas berpotensi tetap volatil dalam jangka pendek, meskipun dukungan struktural dari permintaan bank sentral masih memberikan prospek positif untuk jangka panjang.


sumber : investing