Emas Tertekan Tiga Hari, Pasar Menanti Data Inflasi AS dan Sikap The Fed

Harga Emas (XAUUSD) melanjutkan pelemahan selama tiga hari berturut-turut dan bergerak di bawah US$4.150 per troy ounce menjelang sesi awal Eropa pada hari Rabu. Tekanan terhadap logam mulia terjadi ketika investor bersiap menghadapi rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang berpotensi menentukan arah kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Indeks Harga Konsumen (CPI) akan dirilis pada hari Rabu, disusul Indeks Harga Produsen (PPI) pada hari Kamis (15/10). Selain itu, pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok pada hari Jumat (16/10) akan menjadi perhatian untuk mencari petunjuk mengenai prospek suku bunga ke depan.

Ekspektasi kenaikan suku bunga kembali menjadi faktor utama yang membebani Emas. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang hampir 90% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakan Desember 2026. Ekspektasi tersebut menguat setelah sejumlah pejabat Federal Open Market Committee (FOMC) menyampaikan pandangan hawkish dan membuka kemungkinan pengetatan kebijakan tambahan akibat tekanan inflasi yang persisten. Suku bunga yang lebih tinggi cenderung meningkatkan daya tarik aset berbunga dibandingkan Emas yang tidak memberikan imbal hasil. Kondisi ini berpotensi membatasi pemulihan XAUUSD, terutama jika data inflasi terbaru menunjukkan tekanan harga yang masih kuat.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak mentah turut memperbesar kekhawatiran terhadap inflasi yang dipicu energi. Harga minyak dilaporkan mencapai level tertinggi dalam hampir dua pekan seiring meningkatnya risiko gangguan pasokan akibat konflik di Timur Tengah. Pertempuran antara kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran dan Arab Saudi dilaporkan semakin intensif, sementara serangan terhadap fasilitas energi dan cadangan bahan bakar di Yaman menambah ketidakpastian kawasan. Ketegangan antara AS dan Iran juga berlanjut akibat kebuntuan terkait Selat Hormuz, jalur strategis bagi perdagangan energi global. Perkembangan tersebut mempertahankan premi risiko geopolitik sekaligus memperkuat kekhawatiran bahwa lonjakan harga energi dapat mempersulit upaya pengendalian inflasi.

Meski demikian, pelemahan Dolar AS (USD) selama dua hari berturut-turut memberikan dukungan bagi harga Emas. Greenback bergerak menjauh dari level tertingginya sejak April 2025, sehingga secara relatif membuat Emas lebih terjangkau bagi pemegang mata uang lainnya. Namun, dukungan tersebut masih berhadapan dengan prospek kebijakan The Fed yang cenderung ketat serta kenaikan harga energi yang berpotensi mempertahankan tekanan inflasi. Situasi ini membuat pergerakan Emas berada di antara dua kekuatan utama: pelemahan USD yang mendukung harga dan ekspektasi kenaikan suku bunga yang membatasi potensi penguatan.

Dalam jangka pendek, arah XAUUSD akan sangat bergantung pada hasil CPI dan PPI AS, perkembangan konflik Timur Tengah, serta pernyataan Kevin Warsh. Data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga dan menambah tekanan jual terhadap Emas. Sebaliknya, inflasi yang melandai dapat melemahkan USD dan membuka peluang pemulihan harga. Meski demikian, secara teknikal, Emas masih perlu menunjukkan momentum beli yang kuat serta menembus kisaran perdagangan yang telah bertahan selama lebih dari dua pekan sebelum kenaikan yang lebih signifikan dapat dikonfirmasi. Untuk sementara, pelaku pasar perlu mewaspadai volatilitas tinggi dan menunggu konfirmasi arah setelah rilis data ekonomi AS.


sumber : fxstreet