Emas Tertekan, Kesulitan Untuk Bangkit di Tengah Ancaman Inflasi
Harga emas (XAUUSD) masih kesulitan memanfaatkan rebound moderat dari level di bawah US$4.000, atau titik terendah dalam tiga bulan yang dicapai pada perdaagangan hari Jumat. Emas tetap berada dalam tekanan dan mencatat penurunan untuk hari kedua berturut-turut. Meskipun Federal Reserve (The Fed) baru-baru ini memberikan sinyal bahwa tidak ada urgensi untuk menaikkan suku bunga, pasar masih memperkirakan sekitar 80% peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan Desember 2026. Ekspektasi tersebut, ditambah kekhawatiran inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga minyak, memperkuat prospek pengetatan kebijakan moneter dan menjadi faktor utama yang membatasi potensi penguatan emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Tekanan terhadap emas juga diperkuat oleh pergerakan harga minyak mentah yang masih berada di dekat level tertinggi dalam satu bulan. Kenaikan tersebut dipicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan akibat meningkatnya konflik di Timur Tengah. Pertempuran antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman semakin intensif, ditandai dengan serangkaian serangan drone dan rudal terhadap bandara serta infrastruktur energi penting di Arab Saudi. Situasi semakin kompleks setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) memperingatkan bahwa serangan baru Amerika Serikat dapat mendorong Teheran untuk memperluas responsnya dengan menyerang negara-negara tetangga dan pangkalan yang digunakan dalam operasi militer AS.
Risiko geopolitik tersebut semakin tinggi setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat dan Israel telah menyusun rencana untuk melancarkan kampanye militer singkat namun intensif terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu AS. Kondisi ini membuat premi risiko geopolitik tetap tinggi di pasar. Di sisi lain, ekspektasi terhadap kebijakan The Fed yang cenderung hawkish membantu dolar AS sebagai aset safe haven pulih dari level terendah dalam tiga minggu. Penguatan dolar tersebut memberikan tekanan tambahan terhadap harga emas. Meski demikian, pelaku pasar tampaknya masih enggan mengambil posisi baru secara agresif dan memilih menunggu kejelasan mengenai arah kebijakan moneter The Fed.
Perhatian investor kini beralih pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) selama dua hari yang sangat dinantikan pada pekan depan. The Fed dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan moneternya pada hari Rabu (28/10) dan secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga pada level saat ini. Karena tidak terdapat proyeksi ekonomi terbaru, pasar akan mencermati pernyataan kebijakan yang menyertai keputusan tersebut serta komentar Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam konferensi pers setelah pertemuan. Nada komunikasi bank sentral akan menjadi petunjuk penting mengenai kemungkinan perubahan kebijakan pada pertemuan berikutnya.
Selanjutnya, perhatian pasar akan tertuju pada sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat yang dijadwalkan dirilis pada hari Kamis (29/10). Data tersebut mencakup estimasi awal Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal III dan Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (PCE), yang merupakan salah satu indikator inflasi utama yang menjadi perhatian The Fed. Hasil kedua data tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi terhadap arah suku bunga serta pergerakan dolar AS. Dengan demikian, kombinasi kebijakan The Fed, data inflasi, harga minyak, dan perkembangan geopolitik akan menjadi faktor utama yang menentukan apakah emas mampu memulihkan posisinya atau justru melanjutkan tekanan penurunan.
sumber : fxstreet
