Emas Tertekan, Imbal Hasil AS dan Minyak Menguat

Harga emas (XAUUSD) melemah mendekati US$4.120 per troy ons pada awal perdagangan Eropa, hari Selasa. Logam mulia tersebut menghadapi tekanan jual di tengah pemulihan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) dan kenaikan harga minyak. Imbal hasil Treasury AS bertenor 10 tahun tercatat turun sekitar 0,35% ke kisaran 5,13% pada saat laporan ini ditulis, tetapi sebelumnya menguat sekitar 1,2% pada hari Senin (19/10). Secara umum, kenaikan imbal hasil aset berbasis dolar dapat mengurangi daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.

Perhatian pasar juga tertuju pada musim laporan keuangan perusahaan AS untuk kuartal III. Meta dijadwalkan menjadi salah satu dari lima perusahaan hyperscaler pertama yang melaporkan kinerja pada hari Rabu (21/10), sementara Microsoft, Amazon, dan Google akan menyampaikan laporan keuangan mereka pada pekan berikutnya. Menurut Goldman Sachs, Meta termasuk dalam lima hyperscaler AI yang diperkirakan meningkatkan belanja modal gabungan hingga sekitar US$1,2 triliun pada tahun depan. Jika terealisasi, peningkatan investasi tersebut berpotensi mendorong imbal hasil obligasi AS lebih tinggi sekaligus membuat aset yang terkait dengan pertumbuhan ekonomi menjadi lebih menarik bagi investor dibandingkan aset tradisional seperti emas.

Namun, imbal hasil Treasury AS sempat berada di bawah tekanan dalam beberapa pekan terakhir seiring meningkatnya keraguan pasar terhadap keberlanjutan investasi besar-besaran perusahaan teknologi dalam pembangunan pusat data AI. Deutsche Bank mencatat bahwa kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan yang berkaitan dengan AI telah mendorong peralihan ke aset safe haven di pasar pendapatan tetap. Kondisi tersebut turut memicu penguatan obligasi pemerintah AS dan penurunan imbal hasil Treasury bertenor 10 tahun secara signifikan. Perubahan ekspektasi terhadap pertumbuhan ekonomi ini menjadi salah satu faktor penting yang terus memengaruhi arah harga emas.

Di sisi lain, kenaikan harga minyak turut memberikan tekanan tambahan terhadap emas melalui potensi peningkatan inflasi. Harga minyak WTI telah naik hampir 15% dalam dua pekan terakhir dari level terendah sekitar US$86,32 per barel dan kini diperdagangkan di sekitar US$98,45. Pelaku pasar masih memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga minyak akibat konflik yang berlanjut di Timur Tengah. Kekhawatiran semakin meningkat setelah muncul laporan bahwa Iran dapat memperluas blokade hingga Selat Bab al-Mandeb dan Terusan Suez, serta menyiapkan langkah pembalasan terhadap kemungkinan serangan baru dari AS dan Israel. Mohsen Rezaei, sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, juga memperingatkan bahwa Teheran telah menyiapkan rencana pembalasan baru apabila serangan tersebut kembali terjadi.

Sementara itu, pasar mulai memasuki periode tenang menjelang pengumuman kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed). Sejumlah pejabat The Fed menegaskan pentingnya membawa inflasi kembali menuju target 2%, tetapi sejauh ini belum menunjukkan urgensi untuk kembali menaikkan suku bunga. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Oktober 2026, sebelum berpotensi menaikkannya pada Desember 2026. Dengan demikian, pergerakan emas dalam waktu dekat akan sangat bergantung pada arah imbal hasil Treasury AS, ekspektasi kebijakan The Fed, perkembangan investasi AI, serta dinamika harga minyak dan risiko geopolitik global.


sumber : fxstreet