Emas Terkoreksi, Data NFP AS Perkuat Dolar

Harga emas (XAUUSD) mengalami tekanan setelah sebelumnya mencapai level tertinggi di US$4.106,79 per troy ounce. Pada perdagangan hari Jumat (6/11), logam mulia tersebut melemah hampir 0.57% dan dan ditutup di US$4.065,58 setelah rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat menunjukkan hasil jauh lebih kuat dibandingkan ekspektasi pasar. Data tersebut meningkatkan spekulasi bahwa Federal Reserve (The Fed) berpotensi mempertahankan kebijakan moneter ketat, bahkan membuka peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Desember 2026 mendatang.

Tekanan terhadap emas terutama dipicu oleh laporan Nonfarm Payrolls (NFP) bulan Oktober yang mencatat penambahan 165 ribu lapangan pekerjaan, jauh melampaui perkiraan sebesar 65 ribu. Selain itu, data bulan sebelumnya juga mengalami revisi naik dari 29 ribu menjadi 60 ribu pekerjaan. Kondisi pasar tenaga kerja yang semakin kuat turut tercermin dari penurunan Tingkat Pengangguran dari 4,2% menjadi 4,1%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa perekonomian AS masih memiliki daya tahan yang cukup baik di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Sentimen positif terhadap ekonomi AS juga diperkuat oleh laporan University of Michigan yang menunjukkan peningkatan Indeks Sentimen Konsumen dari 48 pada Oktober menjadi 51 pada November. Di sisi lain, ekspektasi inflasi untuk satu tahun ke depan mengalami penurunan dari 4,7% menjadi 4,3%. Kombinasi data ketenagakerjaan dan kepercayaan konsumen tersebut memberikan gambaran bahwa aktivitas ekonomi AS masih relatif solid. Respons pasar terlihat dari penguatan Indeks Dolar AS (DXY) sebesar 0,67% hingga kembali menembus level 102,00 dan ditutup di 102,16, sehingga meningkatkan tekanan terhadap harga emas.

Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada Desember 2026 juga semakin meningkat. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga naik dari 67% pada hari Kamis (5/11) menjadi sekitar 77%. Presiden Federal Reserve St. Louis, Alberto Musalem, turut menyampaikan bahwa masyarakat masih memiliki kekhawatiran terhadap tingkat inflasi saat ini, meskipun ekspektasi inflasi dinilai tetap terkendali. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di sekitar 4,840%, sedikit meningkat sebesar 0,1% setelah sebelumnya turun dari level tertinggi harian. Perkembangan ini menjadi faktor tambahan yang memengaruhi daya tarik emas sebagai aset investasi.

Di sisi geopolitik, negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran masih berlangsung dengan adanya harapan tercapainya kesepakatan. Namun, situasi Timur Tengah tetap belum stabil menyusul berlanjutnya serangan kelompok Houthi terhadap Arab Saudi serta laporan mengenai kemungkinan eskalasi konflik. Ke depan, perhatian investor akan tertuju pada data inflasi AS, klaim tunjangan pengangguran, serta pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang dijadwalkan rilis pada pekan ini. Secara keseluruhan, prospek emas dalam jangka pendek masih menghadapi tekanan dari penguatan USD dan meningkatnya ekspektasi suku bunga, meskipun ketidakpastian geopolitik berpotensi memberikan dukungan terhadap permintaan aset safe-haven.


sumber : fxstreet