Emas Tembus US$4.200, Pelemahan USD Buka Peluang Rebound XAUUSD
Harga Emas (XAUUSD) melanjutkan penguatan untuk hari kedua berturut-turut pada perdagangan hari Jumat, memperpanjang pemulihan dari level terendah dalam dua bulan. Logam mulia ini mencetak level tertinggi mingguan baru di sekitar US$4.200 per troy ons, didorong oleh pelemahan Dolar AS (USD) dari level tertinggi sejak April 2025 serta penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Meski momentum pemulihan mulai menguat, prospek kenaikan Emas masih menghadapi tantangan dari risiko inflasi dan sikap hawkish Federal Reserve (The Fed), yang berpotensi membatasi pelemahan USD dan menahan laju penguatan XAUUSD.
Salah satu katalis utama datang dari pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menegaskan bahwa Washington tidak akan melanjutkan serangan militer terhadap Iran sebelum pemilu paruh waktu pada 3 November 2026. Trump juga menyebut perundingan dengan Teheran berlangsung produktif, sehingga membantu meredakan kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik dalam waktu dekat. Sentimen tersebut menekan harga minyak mentah dan mengurangi sebagian kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi. Pada saat yang sama, hasil lelang obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun yang mendapat respons positif mendorong penurunan imbal hasil obligasi, memicu aksi ambil untung pada USD dan memberikan ruang bagi Emas untuk melanjutkan pemulihan.
Namun, risiko geopolitik belum sepenuhnya mereda. Kebuntuan negosiasi AS–Iran terkait program nuklir Teheran, meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, serta gangguan di sekitar Selat Hormuz masih menjadi ancaman bagi stabilitas pasokan energi global. Wakil Presiden AS JD Vance menegaskan bahwa Iran harus mengurangi kapasitas pengayaan nuklirnya secara signifikan untuk memenuhi tuntutan Washington. Sebaliknya, Kepala Organisasi Energi Atom Iran, Mohammad Eslami, menolak tuntutan AS agar Teheran menghentikan pengayaan uranium atau menyerahkan persediaannya. Perbedaan sikap tersebut memperbesar ketidakpastian mengenai prospek penyelesaian konflik dan menjaga risiko kenaikan harga energi tetap menjadi perhatian investor.
Dari sisi kebijakan moneter, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada akhir tahun masih menjadi faktor yang berpotensi membatasi kenaikan Emas. Pelaku pasar masih memperhitungkan peluang lebih dari 80% bahwa bank sentral AS akan menaikkan suku bunga, sehingga membuka ruang bagi USD untuk kembali menguat ketika mengalami koreksi. Analis UOB Group juga memperkirakan dua kenaikan suku bunga tambahan, masing-masing pada Desember 2026 dan kuartal I 2027, sebelum The Fed berpotensi mempertahankan suku bunga selama sisa 2027. Meski demikian, UOB menilai risiko pengetatan lebih lanjut tetap terbuka apabila inflasi bertahan tinggi akibat kenaikan harga energi, tarif perdagangan, dan faktor-faktor terkait kecerdasan buatan (AI). Bank tersebut juga tidak memperkirakan kenaikan suku bunga beruntun pada pertemuan Oktober 2026 yang berlangsung kurang dari satu minggu sebelum pemilu paruh waktu AS.
Dengan kondisi tersebut, prospek XAUUSD dalam jangka pendek masih ditentukan oleh pertarungan antara pelemahan USD dan ekspektasi kebijakan moneter The Fed yang hawkish. Penurunan imbal hasil obligasi AS serta meredanya kekhawatiran terhadap eskalasi militer dalam waktu dekat dapat memberikan dukungan bagi Emas. Namun, risiko inflasi dan potensi penguatan kembali USD masih membatasi peluang reli yang lebih agresif. Fokus pasar selanjutnya tertuju pada data awal Indeks Sentimen Konsumen dan Ekspektasi Inflasi University of Michigan, yang berpotensi memengaruhi ekspektasi suku bunga dan arah USD. Jika tekanan terhadap Greenback berlanjut, XAUUSD berpeluang mempertahankan momentum pemulihan. Sebaliknya, data AS yang kuat atau meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga dapat memicu koreksi harga Emas.
sumber : fxstreet
