Emas Rebound Usai Anjlok Terparah Sejak 2008, Mampukah Tembus US$4.000?

Harga emas dunia kembali menguat pada perdagangan hari Senin setelah mengalami penurunan bulanan paling tajam sejak 2008. Penguatan ini didorong oleh kembalinya minat beli investor yang memanfaatkan harga emas lebih rendah untuk melakukan akumulasi atau buy on dip. Selain itu, penurunan harga minyak dunia selama dua hari berturut-turut turut meredakan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi. Namun, pemulihan harga emas masih dibayangi sejumlah faktor risiko, terutama meningkatnya kembali ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta volatilitas pasar saham teknologi. Kondisi tersebut membuat investor tetap berhati-hati dalam menyikapi prospek penguatan logam mulia ke depan.

Pada perdagaangan awal sesi Eropa, harga emas spot tercatat naik 0,63% menjadi US$3.908,31 per troy ounce. Perak mencatatkan kenaikan lebih besar sebesar 1,54% menjadi US$50,13 per troy ounce. Pemulihan emas terjadi setelah logam mulia tersebut anjlok 3,7% pada hari sebelumnya hingga menyentuh level terendah dalam satu tahun terakhir. Penurunan tersebut sekaligus menjadikan Oktober 2026 sebagai bulan dengan kinerja terburuk emas sejak 2008.

Sentimen positif terhadap emas juga datang dari penurunan harga minyak dunia menjelang pemilihan paruh waktu Amerika Serikat pada hari Selasa (3/11). Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyampaikan bahwa Presiden Donald Trump lebih mengutamakan penyelesaian konflik dengan Iran melalui jalur diplomasi. Pernyataan tersebut meningkatkan harapan tercapainya kesepakatan damai sekaligus meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi dan tekanan inflasi. Meski demikian, risiko eskalasi militer masih belum sepenuhnya hilang. Trump berulang kali memperingatkan bahwa Washington berpotensi kembali melancarkan serangan terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu, sementara Teheran mengancam akan memberikan respons balasan yang lebih luas. Sejumlah negara di kawasan Teluk Persia juga menyampaikan kekhawatiran bahwa serangan baru Amerika Serikat dapat memicu konflik regional yang jauh lebih besar dan merusak stabilitas kawasan.

Di sisi lain, harga emas masih rentan terhadap tekanan akibat aksi likuidasi di pasar saham global. Pelemahan saham-saham teknologi mendorong sebagian investor menjual kepemilikan emas untuk menutup kerugian pada aset investasi lainnya. Pasar saham Amerika Serikat bahkan diperkirakan kembali melanjutkan pelemahan pada perdagangan hari Senin, mengikuti aksi jual di Wall Street yang dipicu kekhawatiran terhadap besarnya investasi perusahaan di sektor kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Analis ANZ juga menilai bahwa tingginya imbal hasil obligasi semakin menyulitkan emas untuk melanjutkan penguatan. Selain itu, konsumsi masyarakat Amerika Serikat yang masih kuat dengan pertumbuhan tahunan sebesar 3,8% menunjukkan bahwa perekonomian AS tetap memiliki daya tahan. Kondisi tersebut berpotensi mempertahankan ekspektasi suku bunga tinggi dan memberikan dukungan terhadap dolar AS, sehingga membatasi ruang kenaikan harga emas.

Meskipun demikian, permintaan investor terhadap emas masih menunjukkan ketahanan di tengah tingginya suku bunga. ANZ mencatat bahwa produk reksa dana berbasis emas atau gold-backed Exchange-Traded Funds (ETF) berhasil menarik arus masuk lebih dari 50 ton sepanjang September 2026, bahkan ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS melampaui 5%. Hal ini mengindikasikan bahwa hubungan negatif tradisional antara imbal hasil obligasi dan harga emas mulai mengalami pelemahan. Kendati demikian, ANZ memperkirakan bahwa tingginya imbal hasil obligasi dan penguatan dolar AS masih akan membatasi potensi kenaikan emas dalam jangka pendek. Harga emas diperkirakan berpeluang bergerak konsolidasi di sekitar level US$4.000 per troy ounce, bahkan berpotensi kembali berada di bawah level tersebut sebelum memasuki fase pemulihan yang lebih berkelanjutan. Oleh karena itu, pelaku pasar perlu mencermati perkembangan geopolitik, pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi, serta kondisi pasar saham global sebagai faktor utama yang akan menentukan arah pergerakan emas selanjutnya.


sumber : investing