Emas Menguat Tiga Hari Berturut-turut, Prospek Hawkish The Fed Batasi Kenaikannya

Harga emas (XAUUSD) melanjutkan penguatan selama tiga hari berturut-turut dan sempat menyentuh level tertinggi dalam lebih dari sepekan pada perdagangan hari Senin. Kenaikan ini didukung pelemahan Dolar AS (USD) dan koreksi imbal hasil obligasi pemerintah AS dari level tertinggi multi-tahun. Penurunan harga minyak mentah di tengah harapan meredanya gangguan pasokan energi Rusia-Ukraina turut mengurangi kekhawatiran inflasi dan tekanan di pasar obligasi global. Meski demikian, emas belum menunjukkan momentum lanjutan yang kuat karena prospek kebijakan moneter ketat Federal Reserve (The Fed) dan meningkatnya ketegangan AS-Iran masih membatasi ruang penguatan logam mulia tersebut.

Dari sisi pasar keuangan, Elias Haddad dari Brown Brothers Harriman menilai bahwa koreksi moderat harga energi membantu meredakan tekanan jual obligasi global sekaligus mengurangi momentum penguatan USD. Namun, ia memperingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi AS yang relatif kuat dan tingginya minat investor asing terhadap surat berharga AS masih memberikan dukungan bagi Greenback. Kondisi ini mengindikasikan bahwa pelemahan USD berpotensi bersifat sementara apabila fundamental ekonomi AS tetap solid. Bagi emas, pergerakan Dolar AS dan imbal hasil obligasi akan tetap menjadi faktor penting karena penguatan USD serta kenaikan imbal hasil cenderung mengurangi daya tarik aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas.

Ekspektasi kebijakan The Fed juga menjadi hambatan utama bagi kenaikan XAUUSD. Pasar telah mengesampingkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada pertemuan Oktober 2026, tetapi peluang kenaikan sebesar 25 basis poin pada Desember 2026 masih terbuka lebar. Berdasarkan CME Group FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga pada akhir tahun diperkirakan mencapai sekitar 85%. Ekspektasi tersebut diperkuat oleh risalah rapat FOMC September 2026 yang menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan masih memandang inflasi sebagai ancaman utama terhadap stabilitas ekonomi dan tetap mempertimbangkan pengetatan kebijakan lebih lanjut. Jika ekspektasi kenaikan suku bunga semakin kuat, USD berpotensi kembali menguat dan menekan harga emas.

Sementara itu, risiko geopolitik di Timur Tengah masih memberikan dukungan bagi permintaan aset safe haven. Kelompok Houthi yang didukung Iran dilaporkan meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi, termasuk dengan menargetkan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh menggunakan rudal dan drone. Serangan tersebut memicu ancaman pembalasan dari Arab Saudi, sementara Presiden AS Donald Trump membuka kemungkinan keterlibatan Washington dalam aksi terhadap kelompok Houthi dan melanjutkan tekanan terhadap Iran. Ketegangan semakin meningkat setelah pejabat keamanan tertinggi Iran menilai respons Washington terhadap usulan pembukaan kembali Selat Hormuz tidak memadai. Ketidakpastian ini berpotensi menjaga premi risiko geopolitik dan menopang permintaan emas, meskipun dampaknya terhadap harga tetap bergantung pada perkembangan situasi serta reaksi Dolar AS.

Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada rilis Indeks Harga Produsen (PPI) AS pada hari Rabu (14/10) dan Indeks Harga Konsumen (CPI) pada hari Kamis (15/10), yang dapat mengubah ekspektasi terhadap arah suku bunga The Fed. Pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam pertemuan tahunan IMF dan World Bank di Bangkok pada hari Jumat (16/10) juga berpotensi memengaruhi pergerakan USD dan emas. Data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat dan menekan XAUUSD, sedangkan inflasi yang lebih rendah berpotensi melemahkan USD serta membuka ruang penguatan emas. Dengan kombinasi faktor fundamental tersebut, emas masih memiliki dukungan dari pelemahan USD dan risiko geopolitik, tetapi konfirmasi pembentukan dasar harga jangka pendek membutuhkan tindak lanjut kenaikan yang lebih kuat setelah rilis data ekonomi AS.


sumber : fxstreet