Emas Melonjak di Atas US$4.000, Pelemahan Dolar AS Jadi Katalis Penguatan
Harga emas dunia melonjak pada perdagangan hari Rabu dan kembali memperpanjang penguatannya di atas level US$4.000 per troy ounce. Kenaikan ini didorong oleh pelemahan dolar AS yang membuat emas lebih menarik bagi investor pemegang mata uang lainnya. Pada sesi awal perdagangan Eropa, harga emas spot tercatat naik 2,25% menjadi US$4.019,53 per troy ounce. Di sisi lain, Indeks Dolar AS (DXY) melemah 0,35% ke posisi 101,36.
Penguatan juga terjadi pada logam mulia lainnya. Harga perak naik 3,92% menjadi US$51,7 per ounce. Meskipun demikian, pergerakan emas masih menunjukkan volatilitas tinggi setelah sebelumnya mencatat kenaikan hampir 2% pada hari perdagangan sebelumnya. Pelaku pasar masih mencermati perkembangan negosiasi diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran, yang berpotensi memengaruhi prospek inflasi serta arah kebijakan suku bunga global.
Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga komoditas. Harga minyak mentah sempat bergerak dalam rentang fluktuasi sekitar US$5 per barel ketika Washington dan Teheran mempertimbangkan proposal baru dari pihak mediator untuk meredakan konflik. Perkembangan diplomatik tersebut terjadi setelah Amerika Serikat melancarkan serangan udara terbatas terhadap sejumlah target di Pulau Qeshm, Iran, yang berada di kawasan strategis Selat Hormuz. Sebelumnya, meningkatnya ketegangan telah mendorong harga minyak naik, tetapi harapan bahwa jalur diplomasi masih terbuka membuat harga minyak berbalik melemah. Kondisi ini turut memberikan ruang bagi emas untuk kembali menguat.
Secara historis, harga minyak dan emas belakangan menunjukkan kecenderungan bergerak berlawanan arah. Kenaikan harga energi dapat meningkatkan tekanan inflasi dan memperbesar ekspektasi kenaikan suku bunga, sehingga memberikan tekanan terhadap emas yang tidak menghasilkan imbal hasil bunga. Tekanan tersebut turut terlihat pada pergerakan emas dalam beberapa bulan terakhir. Sepanjang Oktober 2026, harga emas terkoreksi hampir 7% dan sempat menembus ke bawah level psikologis US$4.000 per troy ounce. Bahkan, sejak konflik AS–Iran pecah pada akhir Februari 2026, harga emas dilaporkan telah mengalami penurunan sekitar 25% akibat meningkatnya inflasi dan ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat.
Selain perkembangan geopolitik, hasil pemilu paruh waktu Amerika Serikat juga menjadi perhatian utama investor. Hasil pemilu tersebut berpotensi mengubah arah kebijakan fiskal pemerintah, terutama terkait pengeluaran negara, defisit anggaran, dan prospek inflasi. Perubahan komposisi kekuatan politik di Kongres dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan ekonomi pemerintahan Donald Trump dan secara tidak langsung menentukan arah permintaan terhadap emas sebagai aset lindung nilai. Dalam jangka pendek, pergerakan emas diperkirakan masih dipengaruhi oleh fluktuasi dolar AS, perkembangan negosiasi AS–Iran, serta ekspektasi suku bunga The Federal Reserve (The Fed). Jika dolar AS terus melemah dan ketegangan geopolitik meningkat, emas berpeluang mempertahankan momentum pemulihannya.
sumber : investing
