Emas Kembali Tertekan, Pasar Menanti Keputusan The Fed

Harga emas (XAUUSD) kembali menghadapi tekanan jual pada perdagangan hari Selasa, setelah sebelumnya mencatat pemulihan moderat dari level terendah dalam tiga bulan. XAUUSD diperdagangkan turun 0,29% ke level US$4.003,25 per troy ons saat berita ini ditulis Pukul 13.30 WIB. Pelemahan tersebut terjadi seiring penguatan Dolar AS (USD), yang membuat emas menjadi relatif kurang menarik bagi investor. Meski demikian, logam mulia ini masih mampu bertahan di sekitar level psikologis US$4.000 per troy ounce. Pelaku pasar tampaknya memilih bersikap hati-hati dan menahan diri dari mengambil posisi besar menjelang hasil pertemuan kebijakan Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan diumumkan pada hari Rabu (28/10).

Sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) sebelumnya telah memberikan sinyal bahwa belum terdapat urgensi untuk segera menaikkan suku bunga. Namun, pasar masih memperkirakan peluang lebih dari 80% bahwa bank sentral AS akan kembali menaikkan biaya pinjaman pada pertemuan Desember 2026. Kekhawatiran terhadap inflasi yang dipicu oleh tingginya harga energi juga terus memperkuat spekulasi mengenai kemungkinan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut. Oleh karena itu, perhatian investor akan tertuju pada pernyataan kebijakan yang menyertai keputusan FOMC serta komentar Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam konferensi pers setelah pertemuan, terutama karena kali ini tidak terdapat proyeksi ekonomi terbaru.

Selain keputusan The Fed, pasar juga akan mencermati sejumlah data ekonomi utama AS untuk memperoleh gambaran mengenai arah kebijakan moneter selanjutnya. Data Produk Domestik Bruto (PDB) pendahuluan kuartal III dan Indeks Harga Belanja Konsumsi Pribadi (PCE) akan menjadi indikator penting dalam menilai kekuatan ekonomi dan tekanan inflasi AS. Hasil kedua data tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi suku bunga, pergerakan Dolar AS, serta imbal hasil obligasi pemerintah. Bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil, perubahan ekspektasi suku bunga menjadi sangat penting karena kenaikan imbal hasil dan penguatan USD cenderung meningkatkan tekanan terhadap harga logam mulia.

Di sisi lain, risiko geopolitik masih memberikan pengaruh terhadap pergerakan pasar. Kebuntuan dalam perundingan antara Amerika Serikat dan Iran serta meningkatnya serangan kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran terhadap Arab Saudi membuat premi risiko geopolitik tetap tinggi. Pada hari Senin (26/10), Houthi mengklaim telah menyerang stasiun pompa minyak mentah East-West dan Bandara Riyadh di Arab Saudi. Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan energi dan keamanan kawasan Timur Tengah, meskipun pada saat yang sama ketegangan geopolitik juga mendorong permintaan terhadap Dolar AS sebagai aset safe haven.

Selain itu, laporan mengenai kesiapan kelompok bersenjata Lebanon, Hezbollah, menghadapi kemungkinan kembali pecahnya permusuhan dengan Israel semakin mengurangi harapan akan terciptanya stabilitas kawasan dalam waktu dekat. Kondisi tersebut membuat pasar tetap berada dalam kewaspadaan tinggi dan berpotensi mempertahankan permintaan terhadap USD. Dengan kombinasi penguatan Dolar, pemulihan imbal hasil obligasi AS, serta ketidakpastian menjelang keputusan The Fed, emas masih menghadapi tantangan untuk melanjutkan pemulihannya secara berkelanjutan. Meskipun level US$4.000 sejauh ini mampu menjadi penahan, tekanan fundamental tersebut menunjukkan bahwa risiko penurunan masih lebih dominan dalam jangka pendek.


sumber : fxstreet