Emas Bangkit di Atas US$4.000, tetapi Ancaman The Fed dan Gejolak Timur Tengah Membayangi
Harga emas (XAUUSD) mulai menunjukkan pemulihan moderat dari level terendah dalam tiga bulan dan kembali diperdagangkan di atas level psikologis US$4.000 pada perdagangan hari Senin. Penguatan tersebut terjadi di tengah pelemahan Dolar AS (USD), setelah Presiden AS Donald Trump mengesampingkan kemungkinan aksi militer segera terhadap Iran sehingga mendorong harga minyak mentah mengalami koreksi. Selain itu, sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) mengisyaratkan bahwa tidak ada urgensi untuk segera menaikkan suku bunga. Penurunan tajam imbal hasil obligasi AS dari level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir juga membatasi pemulihan USD dari level terendah tiga pekan sekaligus memberikan dukungan bagi emas. Dengan kondisi tersebut, logam mulia ini berpeluang mengakhiri penurunan selama dua hari berturut-turut yang sebelumnya membawa harga ke level terendah tiga bulan pada hari Jumat (23/10). Meski demikian, ruang penguatan emas masih diperkirakan terbatas.
Dari sisi ekonomi AS, data aktivitas bisnis menunjukkan kinerja yang cukup kuat, tetapi juga memberikan sinyal meningkatnya tekanan inflasi. PMI Manufaktur pendahuluan AS dari S&P Global naik menjadi 56 pada Oktober, mencapai level tertinggi dalam 53 bulan dan melampaui perkiraan pasar sebesar 55,6. Sementara itu, PMI Jasa turun dari 58,8 menjadi 57,9, sesuai dengan ekspektasi analis. Indeks Output Gabungan juga melemah menjadi 57,6 dari 58,4 pada bulan sebelumnya. Namun, komponen harga output meningkat menjadi 59,8, level tertinggi sejak Agustus 2022. Kenaikan tersebut mengindikasikan bahwa tekanan inflasi berpotensi kembali menguat dan bertahan dalam beberapa bulan mendatang, terutama jika harga energi tetap tinggi.
Kekhawatiran terhadap inflasi semakin diperkuat oleh lonjakan harga minyak mentah yang mencapai level tertinggi sejak 16 September 2026. Kenaikan tersebut dipicu oleh kekhawatiran terhadap gangguan pasokan akibat serangan di Arab Saudi dan meningkatnya ketegangan dengan Iran. Kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman bahkan menyatakan pada hari Minggu (25/10) bahwa mereka akan terus menyerang Bandara King Khalid di Riyadh, Arab Saudi. Di sisi lain, kebuntuan dalam perundingan antara AS dan Iran membuat premi risiko geopolitik tetap tinggi. Kondisi tersebut berpotensi membatasi pelemahan Dolar AS sebagai aset safe haven dan menjadi salah satu faktor yang dapat menahan penguatan emas. Oleh karena itu, pelaku pasar dinilai perlu berhati-hati sebelum mengambil posisi bullish secara agresif pada XAUUSD.
Perhatian investor selanjutnya akan tertuju pada sejumlah agenda ekonomi penting AS sepanjang pekan ini. Selain laporan Produk Domestik Bruto (PDB) pendahuluan kuartal III dan indeks harga Belanja Konsumsi Pribadi (PCE) yang akan dirilis pada hari Kamis (29/10), fokus utama pasar akan mengarah pada hasil pertemuan kebijakan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang berlangsung selama dua hari dan berakhir pada hari Rabu (28/10). Karena tidak ada proyeksi ekonomi terbaru yang akan dirilis, pelaku pasar akan mencermati pernyataan kebijakan suku bunga serta komentar Ketua The Fed, Kevin Warsh, dalam konferensi pers setelah pertemuan. Petunjuk mengenai arah kebijakan moneter selanjutnya dapat memberikan pengaruh signifikan terhadap pergerakan Dolar AS dan, pada akhirnya, harga emas.
Selain The Fed, keputusan suku bunga dari sejumlah bank sentral utama lainnya juga berpotensi meningkatkan volatilitas pasar emas. Reserve Bank of New Zealand (RBNZ), Bank Sentral Eropa (ECB), dan Bank of Japan (BoJ) dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan mereka pada pekan ini. Kombinasi antara keputusan bank sentral, data ekonomi AS, pergerakan imbal hasil obligasi, serta perkembangan geopolitik akan menjadi faktor penting yang menentukan arah XAUUSD dalam jangka pendek. Meskipun emas telah berhasil bangkit dari level terendah tiga bulan dan kembali menembus US$4.000, berbagai risiko fundamental tersebut menunjukkan bahwa masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa harga emas telah mencapai titik terendah.
sumber : fxstreet
