DXY Terkoreksi ke Bawah 102, Sikap Hawkish The Fed Tahan Tekanan Jual

Indeks Dolar AS (DXY) kembali menghadapi tekanan jual pada awal pekan dan bergerak di bawah level 102 selama sesi awal Eropa di hari Senin. Meski demikian, indeks yang mengukur kekuatan Greenback terhadap enam mata uang utama tersebut masih bertahan dalam kisaran perdagangan yang relatif terbatas setelah menyentuh level tertinggi sejak April 2025 pada pekan lalu. Koreksi terbaru ini belum cukup untuk mengonfirmasi pembalikan tren, mengingat ekspektasi kebijakan moneter ketat Federal Reserve (The Fed) dan meningkatnya ketegangan geopolitik masih memberikan dukungan bagi USD.

Tekanan terhadap Dolar AS muncul seiring penurunan terbatas imbal hasil obligasi pemerintah AS, yang mengurangi daya tarik Greenback dalam jangka pendek. Namun, risalah rapat FOMC September 2026 yang dirilis pekan lalu menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan masih menganggap inflasi sebagai ancaman utama bagi perekonomian dan membuka peluang pengetatan kebijakan lebih lanjut. Analis Nordea juga menyoroti data ISM sektor jasa AS yang memperlihatkan tekanan harga kembali meningkat. Indeks harga dalam laporan tersebut mencapai level tertinggi sejak Juli 2022, sementara indeks ketenagakerjaan kembali memasuki wilayah ekspansi. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran bahwa tekanan inflasi masih sulit dikendalikan dan dapat membuat The Fed mempertahankan sikap hawkish lebih lama.

Ekspektasi kenaikan suku bunga masih menjadi faktor penting yang menopang DXY. Berdasarkan CME Group FedWatch Tool, pasar memperhitungkan probabilitas lebih dari 85% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember 2026. Meski peluang kenaikan pada pertemuan Oktober 2026 telah berkurang, prospek pengetatan menjelang akhir tahun tetap berpotensi membatasi pelemahan USD. Di sisi lain, kebuntuan negosiasi antara AS dan Iran turut meningkatkan permintaan terhadap Dolar AS sebagai aset safe haven. Pejabat keamanan tertinggi Iran menilai respons Washington terhadap proposal pembukaan kembali Selat Hormuz belum memadai, sehingga ketidakpastian geopolitik masih membayangi sentimen pasar.

Risiko geopolitik semakin meningkat setelah serangan Houthi terhadap bandara utama Riyadh memicu ancaman pembalasan dari Arab Saudi. Presiden AS Donald Trump juga menyampaikan kemungkinan keterlibatan Washington dalam serangan terhadap kelompok Houthi serta melanjutkan aksi militer terhadap Iran. Perkembangan tersebut menjaga premi risiko geopolitik tetap tinggi dan berpotensi menopang permintaan USD ketika ketidakpastian meningkat. Oleh karena itu, meskipun DXY mengalami koreksi dari level tertingginya, tekanan jual lanjutan masih membutuhkan konfirmasi yang lebih kuat sebelum penurunan korektif yang signifikan dapat diantisipasi.

Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada data inflasi AS, yakni Indeks Harga Produsen (PPI) pada hari Rabu (14/10) dan Indeks Harga Konsumen (CPI) pada hari Kamis (15/10), serta pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam pertemuan tahunan IMF dan Bank Dunia di Bangkok pada hari Jumat (16/10). Data inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan berpotensi memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga dan mendorong pemulihan DXY, sedangkan angka yang lebih rendah dapat memperpanjang tekanan jual terhadap Greenback. Aktivitas perdagangan yang menipis akibat libur juga berpotensi meningkatkan volatilitas menjelang rilis data tersebut. Secara keseluruhan, DXY masih menghadapi tekanan korektif di sekitar 102, tetapi kombinasi prospek hawkish The Fed dan risiko geopolitik membuat potensi pelemahan lebih dalam perlu dikonfirmasi oleh perkembangan fundamental berikutnya.


sumber : fxstreet