Dolar Stabil, Emas dan Aussie Menguat
Indeks Dolar AS (DXY) bergerak dalam kisaran yang relatif sempit pada perdagangan terbaru, bergantian antara penguatan dan pelemahan di area 101,46–101,66. Minimnya katalis utama membuat pasar valuta asing cenderung bergerak terbatas. Investor kini menantikan sejumlah data ekonomi Amerika Serikat, termasuk Klaim Tunjangan Pengangguran Awal mingguan dan Indeks Utama Conference Board (CB Leading Index), yang dapat memberikan petunjuk mengenai kondisi pasar tenaga kerja serta prospek aktivitas ekonomi AS.
Di pasar Eropa, EURUSD sedikit melemah dan kembali mendekati area 1,1200 di tengah belum adanya arah yang jelas dalam perdagangan valuta asing. Investor selanjutnya akan mencermati rilis awal Keyakinan Konsumen kawasan Euro serta pidato anggota Dewan Gubernur Bank Sentral Eropa (ECB) Fabio Panetta. Sementara itu, GBPUSD berhasil melanjutkan penguatan yang dimulai pada hari Selasa (20/10) dan sempat menembus level 1,3400. Sejumlah indikator ekonomi Inggris, termasuk Indeks Optimisme Bisnis CBI dan Pesanan Tren Industri CBI, akan menjadi perhatian pasar dalam menilai kondisi perekonomian Inggris.
Di Jepang, USDJPY kembali berada di bawah tekanan dan bergerak ke bawah level 158,00, sekaligus memperpanjang pelemahan pada hari sebelumnya. Investor akan mencermati data mingguan mengenai investasi asing pada obligasi Jepang untuk memperoleh gambaran mengenai arus modal. Di Australia, AUDUSD mencatat penguatan selama empat hari berturut-turut dan semakin memperpanjang pergerakannya di atas level psikologis 0,7000. Momentum positif dolar Australia akan diuji oleh rilis awal PMI Manufaktur dan Jasa S&P Global pada 23 Oktober 2026, yang dapat memberikan indikasi mengenai kesehatan sektor swasta Australia.
Di pasar energi, kontrak berjangka WTI bulan terdekat kembali menghadapi tekanan jual dan diperdagangkan di sekitar US$97 per barel. Pelemahan harga minyak masih berkaitan dengan harapan bahwa konfrontasi antara Amerika Serikat dan Iran dapat berakhir melalui jalur diplomatik. Jika prospek penyelesaian konflik semakin membaik, premi risiko geopolitik yang sebelumnya menopang harga minyak berpotensi berkurang. Kondisi tersebut dapat membuat perhatian investor kembali beralih pada fundamental pasar, terutama keseimbangan pasokan dan permintaan minyak global.
Sementara itu, harga emas kembali menunjukkan penguatan setelah sebelumnya bergerak dalam tekanan. Logam mulia tersebut naik cukup signifikan dan kembali menguji level US$4.150 per troy ons. Penguatan emas terjadi seiring pelemahan tipis Dolar AS serta pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang beragam di berbagai tenor. Dengan arah USD yang masih terbatas dan ketidakpastian pasar global yang tetap ada, emas berpeluang mempertahankan daya tariknya sebagai aset lindung nilai. Investor selanjutnya akan mencermati perkembangan data ekonomi AS dan arah imbal hasil Treasury untuk menentukan keberlanjutan momentum emas.
sumber : fxstreet
