Dolar Menguat, Pelaku Pasar Cermati Pemilu Paruh Waktu AS dan Data Ekonomi Penting

Dolar AS (USD) bergerak fluktuatif pada perdagangan hari Selasa (3/11), sejalan dengan dinamika pasar valuta asing global. Pergerakan ini dipengaruhi oleh sikap hati-hati para pelaku pasar menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat, serangkaian rilis data ekonomi penting, serta ketidakpastian yang masih menyelimuti konflik di Timur Tengah. Investor cenderung menahan diri sambil mencermati perkembangan politik dan ekonomi yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed).

Indeks Dolar AS (DXY) bergerak dalam fase konsolidasi tepat di bawah level psikologis 102,00, dengan kenaikan tipis setelah mengalami koreksi pada perdagangan sebelumnya. Fokus pasar selanjutnya tertuju pada sejumlah indikator ekonomi AS yang akan dirilis pada 4 November 2026, termasuk MBA Mortgage Applications, ADP Employment Change, Neraca Perdagangan, PMI Jasa S&P Global, PMI Jasa ISM, serta laporan mingguan persediaan minyak mentah dari EIA. Rangkaian data tersebut berpotensi memberikan petunjuk mengenai kondisi perekonomian AS sekaligus memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed.

Di pasar mata uang utama, EURUSD mencatat kenaikan terbatas, tetapi masih kesulitan menembus level resistance 1,1200. Perhatian investor tertuju pada rilis final PMI Jasa S&P Global dari kawasan Euro dan Jerman, serta data awal inflasi zona Euro. Sementara itu, GBPUSD melanjutkan tren penguatan selama beberapa hari terakhir dan kembali bergerak di atas level 1,3400, dengan PMI Jasa S&P Global Inggris menjadi agenda ekonomi utama. Di kawasan Asia, USDJPY mencatat level tertinggi dalam beberapa hari terakhir dan menguji area SMA 200 hari di sekitar 158,60, sedangkan AUDUSD kembali mengalami tekanan jual hingga mendekati level 0,6960. Pelemahan dolar Australia terjadi meskipun Reserve Bank of Australia (RBA) telah menaikkan suku bunga, yang ternyata belum mampu mendorong momentum penguatan baru.

Dari sektor komoditas energi, harga minyak mentah WTI untuk kontrak Desember ditutup naik 0,52% ke level US$96,75 per barel. Pada perdagangan hari sebelumnya, WTI mengalami tekanan. Tekanan tersebut muncul seiring meningkatnya spekulasi bahwa solusi diplomatik terhadap konflik antara Amerika Serikat dan Iran berpotensi segera terbentuk. Harapan meredanya ketegangan geopolitik tersebut mengurangi premi risiko yang sebelumnya menopang harga minyak. Sementara itu, harga emas juga bergerak melemah dan dan sempat kembali turun di bawah level US$3.900 per troy ounce, sekaligus menghapus sebagian penguatan yang terjadi pada perdagangan hari Senin (2/11).

Secara keseluruhan, pasar keuangan global masih dibayangi ketidakpastian menjelang pemilu paruh waktu AS dan rilis sejumlah data ekonomi berdampak tinggi. Dolar AS relatif mampu mempertahankan posisinya, sementara emas dan minyak mentah menghadapi tekanan akibat perubahan ekspektasi pasar terhadap suku bunga serta perkembangan geopolitik. Dalam jangka pendek, perhatian investor akan tertuju pada hasil data ketenagakerjaan dan aktivitas sektor jasa AS, perkembangan hubungan AS–Iran, serta dinamika politik Amerika Serikat yang berpotensi menjadi katalis utama pergerakan mata uang dan komoditas global.


sumber : fxstreet