Dolar Tertekan, Jelang Pemilu Paruh Waktu AS

Dolar Amerika Serikat (USD) mengalami pelemahan pada perdagangan hari Senin (2/11) meskipun data ekonomi terbaru menunjukkan hasil yang cukup positif. Indeks PMI Manufaktur ISM Amerika Serikat untuk Oktober tercatat melampaui ekspektasi pasar, tetapi data tersebut belum mampu memberikan dorongan signifikan bagi penguatan dolar AS. Sebaliknya, perhatian investor lebih banyak tertuju pada perkembangan geopolitik, khususnya munculnya harapan terobosan dalam negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran. Selain itu, pelaku pasar juga bersikap hati-hati menjelang pemilihan paruh waktu Amerika Serikat serta rilis sejumlah data ekonomi penting, termasuk Factory Orders dan Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS). Indeks Dolar AS (DXY) ditutup di level 101,64 atau melemah 0,11%.

Di pasar mata uang utama, EURUSD mengakhiri perdagangan hari Senin (2/11) dengan kenaikan sekitar 0,33%, meskipun masih bergerak di bawah level 1,1200. Penguatan euro didukung oleh data PMI HCOB dari Jerman dan Spanyol yang menunjukkan hasil cukup solid. Namun, Italia justru mencatatkan kontraksi aktivitas manufaktur, dengan indeks turun dari 50,4 menjadi 49,4, lebih rendah dibandingkan perkiraan. Sementara itu, GBPUSD bergerak di sekitar level 1,3400 setelah sempat menyentuh puncak 1,3448, tetapi gagal mempertahankan momentum kenaikannya. Meskipun tidak terdapat agenda rilis data ekonomi penting dari Inggris, pasar masih memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga Bank of England (BoE) pada hari Kamis (5/11), dengan probabilitas mendekati 100% berdasarkan data LSEG. Di sisi lain, USDJPY bergerak relatif terbatas setelah Bank of Japan (BoJ) memberikan kejutan dengan sikap yang lebih dovish pada hari Jumat (30/10) sebelumnya. Meski demikian, pasar masih memperkirakan adanya peluang kenaikan suku bunga Jepang pada pertemuan Desember 2026.

Perhatian berikutnya tertuju pada dolar Australia menjelang pengumuman kebijakan moneter Reserve Bank of Australia (RBA). Pasangan AUDUSD mengalami pelemahan menuju level 0,7000 menjelang keputusan suku bunga yang dijadwalkan pukul 10.30 WIB hari Selasa. Investor memperkirakan RBA akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, dengan probabilitas mencapai 85%. Selain keputusan suku bunga, pasar juga menantikan Pernyataan Kebijakan Moneter serta konferensi pers Gubernur RBA Michele Bullock untuk memperoleh petunjuk mengenai arah kebijakan selanjutnya. Sementara itu, USDCHF menjadi salah satu pasangan mata uang dengan pergerakan paling menonjol setelah turun dari kisaran 0,8250 menuju 0,8182. Pergerakan tersebut terjadi tanpa katalis yang benar-benar jelas. Selanjutnya, perhatian investor akan tertuju pada rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) Swiss bulan Oktober yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan Swiss National Bank (SNB). Bank sentral tersebut diperkirakan masih akan mempertahankan kebijakan moneternya dengan tingkat suku bunga yang relatif rendah.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mengalami penurunan tajam lebih dari 6% hingga mencapai level terendah harian di US$95,13 per barel. Pelemahan ini dipicu oleh meningkatnya harapan penyelesaian konflik antara Washington dan Teheran melalui jalur diplomasi. Laporan Axios menyebutkan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump lebih memilih memberikan tambahan waktu bagi upaya negosiasi dengan Iran sebelum mempertimbangkan kemungkinan melancarkan serangan militer kembali. Meredanya kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan minyak global mendorong investor mengurangi posisi beli dan melakukan aksi ambil untung. Sebaliknya, harga emas (XAUUSD) justru memperoleh keuntungan dari pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Harga emas diperkirakan menguat lebih dari 1,61% dan ditutup di US$3.946,39 per troy ounce. Meskipun demikian, struktur teknikal secara keseluruhan masih menunjukkan kecenderungan bearish. Keberhasilan pembeli mendorong harga kembali menembus level psikologis US$4.000 akan menjadi sinyal penting bagi peluang pemulihan yang lebih kuat.

Secara keseluruhan, pergerakan pasar keuangan global masih dipengaruhi oleh kombinasi perkembangan geopolitik, ekspektasi kebijakan moneter, dan rilis data ekonomi Amerika Serikat. Pelemahan dolar AS memberikan ruang penguatan bagi sejumlah mata uang utama serta komoditas seperti emas, sementara harapan tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran memberikan tekanan terhadap harga minyak mentah. Dalam waktu dekat, perhatian investor akan terpusat pada hasil pemilihan paruh waktu Amerika Serikat, data Factory Orders dan JOLTS, keputusan suku bunga RBA, serta perkembangan kebijakan bank sentral utama lainnya. Pelaku pasar juga perlu mewaspadai potensi perubahan sentimen secara cepat apabila muncul perkembangan baru dari konflik Timur Tengah. Dengan tingginya volatilitas di berbagai instrumen keuangan, pengelolaan risiko dan pemantauan level teknikal menjadi faktor penting dalam menentukan strategi perdagangan.


sumber : fxstreet