Dolar AS Tertekan, Euro dan Poundsterling Menguat!
Dolar AS (USD) kembali mengalami tekanan pada perdagangan hari Kamis (29/10) dan melemah ke level terendah dalam tiga hari terakhir. Indeks Dolar AS (DXY) tercatat mengalami penurunan selama dua hari berturut-turut, bahkan sempat bergerak di bawah level psikologis 102,00. Pelemahan ini terjadi ketika investor mencermati keputusan suku bunga Bank Sentral Eropa (ECB) serta perkembangan terbaru konflik di Timur Tengah. Sikap hawkish ECB memberikan dorongan tambahan bagi mata uang euro, sementara tekanan jual terhadap dolar AS semakin memperkuat pergerakan sejumlah pasangan mata uang utama. Selanjutnya, perhatian pasar tertuju pada rilis Chicago PMI dan Indeks Biaya Ketenagakerjaan (Employment Cost Index/ECI) kuartalan Amerika Serikat yang berpotensi memberikan petunjuk baru mengenai kondisi ekonomi dan arah kebijakan Federal Reserve (The Fed).
Dari kawasan Eropa, pasangan EURUSD berhasil memperpanjang penguatan dan menembus level 1,1170 setelah memperoleh dukungan dari sikap kebijakan ECB yang cenderung hawkish. Investor juga akan mencermati sejumlah data ekonomi penting Jerman, termasuk laporan ketenagakerjaan, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal III awal, serta inflasi pendahuluan. Selain itu, data pertumbuhan PDB kuartal III kawasan Euro secara keseluruhan turut menjadi perhatian. Sementara itu, GBPUSD melanjutkan tren kenaikan dan mencapai level tertinggi dalam tiga hari, dengan perhatian pasar tertuju pada area resistensi 1,3400. Data harga perumahan Nationwide serta survei Decision Maker Panel (DMP) dari Bank of England (BoE) akan menjadi indikator penting untuk menilai kondisi ekonomi Inggris dan prospek kebijakan moneternya.
Di kawasan Asia, USDJPY berhasil bangkit setelah mengalami koreksi pada hari sebelumnya dan kembali menguji level di atas 158,00. Perhatian investor tertuju pada keputusan Bank of Japan (BoJ) yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya. Selain keputusan tersebut, sejumlah data ekonomi Jepang juga akan dirilis, meliputi tingkat pengangguran, Indeks Harga Konsumen (IHK) Tokyo, penjualan ritel, produksi industri awal, pembangunan perumahan baru, serta pesanan konstruksi. Di sisi lain, AUDUSD kehilangan momentum setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi dalam lima minggu di sekitar 0,7070. Pasangan mata uang tersebut kemudian berbalik melemah dan ditutup di kisaran 0,7000-an bawah. Perhatian pasar Australia selanjutnya tertuju pada data Indeks Harga Produsen (PPI) kuartalan serta angka kredit perumahan dan kredit sektor swasta yang dapat memberikan gambaran mengenai aktivitas ekonomi domestik.
Pada pasar komoditas, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Desember bergerak sedikit melemah, tetapi masih berusaha mempertahankan posisinya setelah sempat turun di bawah US$100 per barel. Harapan baru terhadap tercapainya solusi diplomatik dalam konflik Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang membatasi kenaikan harga minyak karena meredakan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global. Sementara itu, harga emas (XAUUSD) kehilangan momentum setelah mencatat kenaikan selama tiga hari berturut-turut. Logam mulia tersebut kembali menghadapi tekanan dan menjadi perhatian pasar di sekitar level psikologis US$4.000 per troy ounce. Inflasi Amerika Serikat yang masih tinggi memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi dalam waktu lebih lama atau menerapkan kebijakan higher for longer. Kondisi tersebut meningkatkan daya tarik dolar AS dan imbal hasil aset berbunga, sehingga membatasi potensi penguatan emas.
Secara keseluruhan, pasar keuangan global masih bergerak dinamis dengan dipengaruhi oleh perbedaan arah kebijakan bank sentral, perkembangan data ekonomi, serta ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Pelemahan dolar AS memberikan peluang penguatan bagi euro dan poundsterling, meskipun pergerakan masing-masing mata uang tetap bergantung pada hasil data ekonomi domestik. Di sisi lain, yen Jepang masih menghadapi tekanan akibat ketidakpastian kebijakan BoJ, sedangkan dolar Australia membutuhkan dukungan data ekonomi yang lebih kuat untuk mempertahankan momentum kenaikannya. Untuk komoditas, minyak mentah masih sensitif terhadap perkembangan konflik geopolitik dan potensi gangguan pasokan, sementara emas menghadapi tekanan dari ekspektasi suku bunga tinggi The Fed. Oleh karena itu, pelaku pasar perlu mencermati rilis data ekonomi utama serta perkembangan kebijakan bank sentral sebagai katalis penting yang berpotensi meningkatkan volatilitas pasar Forex dan komoditas dalam perdagangan selanjutnya.
sumber : fxstreet
