Dolar AS Tersungkur, Yen Jepang Jadi Sorotan
Dolar AS (USD) melemah tajam pada perdagangan Kamis setelah rilis data ekonomi Amerika Serikat menunjukkan perlambatan pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang mulai mereda. Indeks Dolar AS (DXY) turun sekitar 0,8% ke kisaran 100,00, bahkan sempat menembus di bawah level psikologis tersebut. Produk Domestik Bruto (PDB) AS pada kuartal II hanya tumbuh 1,5% secara tahunan, lebih rendah dari perkiraan pasar sebesar 2,1%. Sementara itu, inflasi inti Personal Consumption Expenditures (PCE) hanya naik 0,1% secara bulanan dan melambat menjadi 3,3% secara tahunan. Meski demikian, data Klaim Tunjangan Pengangguran Awal yang lebih baik dari perkiraan serta lonjakan Indeks Harga PDB menunjukkan bahwa tekanan inflasi belum sepenuhnya hilang.
Di kawasan Eropa, mata uang euro menguat terhadap dolar setelah data ekonomi Zona Euro menunjukkan kinerja yang lebih baik dari ekspektasi. EURUSD naik sekitar 0,5% ke level 1,1530, didukung pertumbuhan ekonomi Zona Euro sebesar 0,4% pada kuartal II, dua kali lipat dari proyeksi pasar. Pertumbuhan tahunan meningkat menjadi 1,0%, dengan Spanyol menjadi kontributor utama. Sementara itu, inflasi Jerman yang naik menjadi 2,8% memperkuat ekspektasi bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) akan tetap berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneternya. Di Inggris, GBPUSD turut menguat sekitar 0,8% setelah Bank of England (BoE) mempertahankan suku bunga di 3,75% dengan nada yang lebih hawkish, ditandai tiga anggota Komite Kebijakan Moneter yang mendukung kenaikan suku bunga.
Pergerakan terbesar terjadi pada pasangan USDJPY, yang anjlok sekitar 2,4% ke kisaran 159,50 akibat penguatan tajam Yen Jepang. Lonjakan ini memunculkan spekulasi bahwa otoritas Jepang melakukan intervensi di pasar valuta asing, meskipun belum ada konfirmasi resmi. Di sisi lain, AUDUSD melonjak sekitar 1,1% hingga menembus level 0,7000, didorong pelemahan dolar AS dan meningkatnya minat investor terhadap aset-aset berisiko setelah data ekonomi AS yang lebih lemah.
Di pasar komoditas, harga emas menguat sekitar 1,1% ke level US$4.113 per troy ounce, didukung pelemahan dolar AS dan melandainya inflasi inti PCE yang meningkatkan daya tarik logam mulia. Perak bahkan mencatat kenaikan hampir 3% menuju US$59,20 per ons seiring meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven. Sebaliknya, minyak mentah WTI turun sekitar 0,7% ke kisaran US$84 per barel karena kekhawatiran perlambatan ekonomi AS mengimbangi risiko geopolitik di Timur Tengah yang masih membayangi pasokan energi global.
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada sejumlah agenda penting yang akan dirilis pada hari Jumat. Bank of Japan (BoJ) diprakirakan mempertahankan suku bunga di 1%, sementara investor akan mencermati pernyataan kebijakan, laporan prospek ekonomi, dan konferensi pers untuk mencari petunjuk mengenai arah kebijakan berikutnya. Selain itu, pasar juga menantikan data inflasi awal Zona Euro, data ketenagakerjaan Jerman, inflasi Prancis dan Italia, serta sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat seperti Employment Cost Index, Chicago PMI, dan Sentimen Konsumen Michigan, yang diperkirakan akan menjadi penentu arah pergerakan pasar selanjutnya.
sumber : fxstreet
