Dolar AS Mulai Kehilangan Tenaga, Pasar Menanti Sinyal The Fed

Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kinerja Dolar AS (USD) terhadap enam mata uang utama dunia, mulai kehilangan momentum setelah mencatat penguatan pada hari sebelumnya. Pada perdagangan awal sesi Eropa di hari Senin, DXY bergerak di 101,52, turun 0,13%. Pelemahan tersebut terjadi ketika investor mulai menyesuaikan posisi menjelang keputusan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed), sementara pasar masih memperkirakan bank sentral AS akan menahan suku bunga pada pertemuan Oktober 2026 sebelum membuka peluang kenaikan kembali pada Desember 2026.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar saat ini memperkirakan probabilitas sebesar 90,6% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 27–28 Oktober 2026. Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga pada Desember 2026 mencapai 79,7%. Ekspektasi tersebut menunjukkan bahwa pelaku pasar masih melihat adanya kemungkinan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut, terutama apabila tekanan inflasi tetap tinggi dan data ekonomi AS terus menunjukkan ketahanan. Namun, keputusan untuk menahan suku bunga pada Oktober 2026 diperkirakan membuat ruang penguatan Dolar dalam jangka pendek menjadi lebih terbatas.

Elias Haddad dari Brown Brothers Harriman menilai bahwa Federal Open Market Committee (FOMC) secara luas diperkirakan mempertahankan kebijakan moneternya pada pekan ini, dengan kisaran target suku bunga federal funds tetap di 3,75%–4,00% setelah kenaikan 25 basis poin pada September 2026. Menurutnya, seruan agar The Fed bersikap lebih sabar dari sejumlah pejabat penting turut memperkuat ekspektasi jeda kebijakan. Meski pasar hanya memberikan peluang sekitar 10% terhadap kenaikan suku bunga pada pertemuan pekan ini, kenaikan pada Desember 2026 telah hampir sepenuhnya diperhitungkan. Di tengah data ekonomi AS yang masih kuat dan tekanan inflasi yang persisten, kondisi tersebut tetap menjadi faktor pendukung bagi Dolar AS.

Perhatian investor selanjutnya akan tertuju pada sejumlah data ekonomi penting AS yang dijadwalkan dirilis sepanjang pekan ini. Data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) serta angka awal Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal III akan menjadi indikator penting bagi pasar dalam menilai arah kebijakan The Fed selanjutnya. Hasil kedua data tersebut dapat memengaruhi ekspektasi terhadap suku bunga sekaligus menentukan pergerakan imbal hasil obligasi AS dan Dolar. Semakin kuat data ekonomi dan tekanan inflasi yang terlihat, semakin besar pula peluang pasar memperkirakan kebijakan moneter yang lebih ketat.

Di sisi lain, Dolar AS menghadapi tekanan dari berkurangnya permintaan terhadap aset safe haven setelah Presiden AS Donald Trump memberikan sinyal bahwa tidak akan ada aksi militer segera terhadap Iran. Pernyataan tersebut meredakan sebagian kekhawatiran geopolitik dan mengurangi kebutuhan investor untuk berlindung pada Dolar. Namun, risiko eskalasi masih belum sepenuhnya hilang. Pasar tetap mewaspadai kemungkinan konflik kembali meningkat setelah pemilu Israel pekan ini dan pemilu paruh waktu AS pekan depan. Laporan intelijen juga menyebutkan bahwa Iran siap melakukan pembalasan dengan menargetkan sejumlah lokasi strategis di Israel dan Uni Emirat Arab apabila operasi militer kembali berlangsung. Kondisi tersebut membuat prospek Dolar AS tetap dipengaruhi oleh kombinasi antara kebijakan The Fed, data ekonomi, dan perkembangan geopolitik global.


sumber : fxstreet