Dolar AS Menguat, Pasar Pantau Kebijakan The Fed dan Selat Hormuz

Dolar AS (USD) melanjutkan penguatannya pada perdagangan hari Selasa dengan mencapai level tertinggi dalam beberapa minggu terakhir. Penguatan ini didorong oleh ekspektasi pasar terhadap kemungkinan pengetatan kebijakan moneter lanjutan oleh Federal Reserve (The Fed). Sementara itu, harapan terhadap potensi kesepakatan yang dapat meredakan konflik AS–Iran terkait Selat Hormuz belum mampu mengalihkan perhatian pelaku pasar dari sentimen positif terhadap Greenback.

Indeks Dolar AS (DXY) bergerak semakin jauh di atas level psikologis 100,00 dan mencatatkan level tertinggi baru dalam dua bulan. Pergerakan tersebut berlangsung di tengah dinamika imbal hasil obligasi Treasury AS yang bervariasi di berbagai tenor. Fokus pasar selanjutnya tertuju pada rilis awal PMI Manufaktur dan Jasa S&P Global bulan September, serta sejumlah agenda ekonomi lainnya, termasuk MBA Mortgage Applications, laporan persediaan minyak mentah EIA, dan pidato pejabat The Fed, Michael Barr.

Di pasar valuta asing, EURUSD melanjutkan tekanan jual dengan mencatatkan level terendah baru dalam beberapa minggu di sekitar 1,1430. GBPUSD juga melemah ke kisaran 1,3320, level yang terakhir terlihat pada akhir Juli 2026, seiring dominasi Dolar AS. Sementara itu, USDJPY melanjutkan tren penguatan selama tiga hari berturut-turut dan bertahan di atas level 157,00. Adapun AUDUSD kembali tertekan dan sempat menembus support 0,7100. Pelaku pasar akan mencermati rilis PMI S&P Global dari kawasan Eropa, Inggris, Jepang, dan Australia sebagai katalis pergerakan berikutnya.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah WTI kembali mengalami tekanan dan menembus level US$90,00 per barel, mencapai titik terendah dalam tiga minggu terakhir. Pelemahan ini dipengaruhi oleh munculnya kembali harapan terhadap pembukaan Selat Hormuz, yang berpotensi mendukung kelancaran pasokan minyak global. Perkembangan geopolitik di kawasan tersebut tetap menjadi perhatian utama karena dapat memengaruhi volatilitas harga energi.

Berbeda dengan minyak, harga emas berhasil membalikkan pelemahan awal dan diperdagangkan dengan kenaikan moderat, meskipun masih berada di bawah level kunci US$4.400 per troy ons. Penguatan emas berlangsung di tengah Dolar AS yang tetap solid dan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, serta pergerakan imbal hasil Treasury yang beragam. Selanjutnya, pelaku pasar akan terus memantau perkembangan kebijakan moneter AS, data ekonomi utama, dan dinamika geopolitik untuk menentukan arah pergerakan aset-aset finansial.


sumber : fxstreet