Dolar AS Menguat, Ketegangan Geopolitik dan Imbal Hasil Treasury Jadi Penggerak Utama
Dolar AS (USD) mempercepat pemulihannya pada awal pekan dan mencatat level tertinggi dalam beberapa pekan. Penguatan Greenback didukung oleh kenaikan berkelanjutan imbal hasil obligasi pemerintah AS serta kekhawatiran geopolitik yang masih membayangi pasar. Indeks Dolar AS (DXY) diperdagangkan di level 101,17, dekati level tertinggi sejak akhir Juli 2026, karena investor terus mencermati minimnya kemajuan dalam konflik Timur Tengah dan kenaikan imbal hasil Treasury di berbagai tenor.
Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada serangkaian data ekonomi AS, termasuk Permohonan Hipotek MBA, Perubahan Ketenagakerjaan ADP, inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE), Pendapatan dan Belanja Perorangan, PMI Chicago, serta data final pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II. Investor juga akan mencermati laporan mingguan Energy Information Administration (EIA) mengenai persediaan minyak mentah serta pernyataan dari pejabat Federal Reserve, termasuk Goolsbee dan Barkin, untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter.
Di pasar valuta asing, EURUSD turun ke level terendah dalam tiga bulan dan mendekati support penting 1,1300 akibat penguatan USD serta meningkatnya ketegangan geopolitik terkait konflik AS-Iran. GBPUSD juga melemah dan menguji level 1,3200, yang menjadi area terendah baru dalam tiga bulan. Sementara itu, fokus pasar Eropa tertuju pada data Penjualan Ritel, pasar tenaga kerja dan inflasi awal Jerman, serta agenda Inggris yang mencakup Neraca Transaksi Berjalan kuartal II, Harga Rumah Nationwide, Investasi Bisnis dan data final pertumbuhan PDB kuartal II.
USDJPY bergerak dengan bias menguat di sekitar 157,50, melanjutkan kenaikan pada hari Senin seiring penguatan USD dan imbal hasil Treasury AS. Di sisi lain, AUDUSD menghadapi tekanan jual dan menembus level psikologis 0,7000 setelah sebelumnya mencatat kenaikan selama dua hari berturut-turut. Investor akan menantikan data Produksi Industri Jepang, Penjualan Ritel, Perumahan Baru dan Pesanan Konstruksi, sementara Australia akan merilis data inflasi, Izin Mendirikan Bangunan, Persetujuan Rumah Pribadi serta Kredit Sektor Swasta dan Perumahan.
Di pasar komoditas, kontrak berjangka WTI kembali melemah dan menguji level US$90 per barel, mencatat penurunan harian ketiga berturut-turut di tengah meningkatnya kembali ketegangan geopolitik terkait konflik AS-Iran dan Selat Hormuz. Sementara itu, emas berhasil memulihkan sebagian kerugian pada awal pekan, tetapi masih kesulitan menembus kembali US$4.200 per troy ounce. Penguatan Dolar AS dan kenaikan imbal hasil Treasury di berbagai tenor tetap menjadi tekanan utama bagi logam mulia.
sumber : fxstreet
